🐻‍❄️ Kebudayaan Yogyakarta Lengkap Beserta Gambar Dan Penjelasannya

Dengandemikian. bentuk panggang-pe memiliki banyak variasi, seperti panggang-pe gedhang selirang. panggang-pe empyak setangkep atau panggang-pe cere gancet, panggang-pe trajumas, dan panggang-pe barengan. Baca juga: Rumah Adat 34 Provinsi di Indonesia Lengkap Gambar dan Penjelasannya Rumah Adat Jawa Timur Lengkap, Gambar dan Penjelasannya Mengenal Pakaian Adat Daerah Istimewa Yogyakarta Beserta Gambar dan Keunikannya – Yogyakarta adalah provinsi di Indonesia yang memiliki beragam kebudayaan, mulai dari kearifan lokalnya hingga pakaian adatnya. “Jogja istimewa” bukan hanya istilah, karena memang betul Jogja sangat istimewa baik dari segi budayanya, alamnya yang indah, keramahan warganya hingga sejarahnya. Yogyakarta memiliki banyak julukan mulai dari Kota Pelajar, Kota Wisata, Kota Perjuangan, Kota Gudeg, Kota Berhati Nyaman, Kota Murah Meriah, Kota Seniman dan banyak lagi. Dan mari hari ini kita membahas tentang pakaian adat Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki keunikan dan ciri khas budaya Yogyakarta. Pakaian Adat Daerah Istimewa YogyakartaDaftar IsiPakaian Adat Daerah Istimewa YogyakartaMengenal Nama Pakaian Adat Yogyakarta1. Pakaian Adat Surjan Yogyakarta2. Pakaian Adat Kebaya Yogyakarta3. Pakaian Adat Sabukwala4. Pakaian Adat Peranakan5. Pakaian Adat Kasatrian Ageng6. Pakaian Adat Paes Ageng Jangan Menir Daftar Isi Pakaian Adat Daerah Istimewa Yogyakarta Mengenal Nama Pakaian Adat Yogyakarta 1. Pakaian Adat Surjan Yogyakarta 2. Pakaian Adat Kebaya Yogyakarta 3. Pakaian Adat Sabukwala 4. Pakaian Adat Peranakan 5. Pakaian Adat Kasatrian Ageng 6. Pakaian Adat Paes Ageng Jangan Menir farhanabas Sebagai warga negara Indonesia, sepatutnya kita bangga karena Indonesia memiliki beragam kebudayaan yang hingga kini tetap dijaga dengan sangat baik. Ada banyak sekali yang dapat dibahas tentang Jogja. Yogyakarta kaya akan budaya, sejarah, tempat wisata, kuliner yang khas dan banyak lagi. Kali ini, Mamikos ingin sekali membahas Jogja dari Pakaian adatnya yang pastinya memiliki keunikan dan ciri khas budaya Yogyakarta. Lalu apa saja sih keunikan yang dimiliki pakaian adat Daerah Istimewa Yogyakarta? Yuk mari simak penjelasan kami dibawah ini. Mengenal Nama Pakaian Adat Yogyakarta Seperti yang kita tahu bahwa pakaian adat adalah pakaian tradisional yang dikenakan dalam kehidupan sehari-hari atau pakaian tradisional yang dikenakan pada acara-acara tertentu seperti pernikahan, upacara keagamaan dan lain sebagainya. Di era modern ini, pakaian adat umumnya tidak digunakan untuk pakaian sehari-hari, karena masyarakat lebih suka memakai pakaian modern. Meskipun begitu, masih banyak daerah di Indonesia yang warganya masih tetap menggunakan pakaian adatnya untuk pakaian keseharian, misalnya suku Baduy yang menggunakan pakaian adatnya untuk pakaian sehari-hari. Dan masyarakat di beberapa wilayah Yogyakarta juga masih ada yang memakai pakaian adat sebagai pakaian keseharian mereka, khususnya di desa-desa Yogyakarta. Pakaian adat Yogyakarta memiliki keunikan tersendiri, mulai dari penanda status sosial, simbol adat istiadat hingga identitas suku Jawa yang mana masyarakat Yogyakarta adalah suku Jawa. Pakaian adat Yogyakarta tidak hanya dipakai pada acara-acara tertentu saja, pakaian adat juga menjadi pakaian dinas di keraton Jogja. Para abdi dalem menggunakan pakaian adatnya setiap hari. Tidak jarang juga, pakaian adat Jogja dikenakan oleh pemandu wisata di Jogja misalnya saja di tempat wisata pengelaran budaya, keraton Yogyakarta, destinasi candi-candi di Jogja hingga tempat-tempat bersejarah. Yogyakarta menjadi daerah yang memiliki banyak pakaian adat. Pakaian adat Daerah Istimewa Yogyakarta terbagi menjadi 3 jenis. Yaitu pakaian adat untuk sehari hari, pakaian upacara adat serta pakaian adat upacara pernikahan. Berikut nama-nama pakaian adat Daerah Istimewa Yogyakarta Pakaian Adat Surjan Yogyakarta Pakaian Adat Kebaya Yogyakarta Pakaian Adat Sabukwala Pakaian Adat Peranakan Pakaian Adat Kasatrian Ageng Pakaian Adat Paes Ageng Jangan Menir Pakaian Adat Paes Ageng Kebesaran 1. Pakaian Adat Surjan Yogyakarta Pakaian adat Daerah Istimewa Yogyakarta yang pertama adalah Surjan yang merupakan pakaian tradisional yang dipakai untuk sehari-hari. Surjan adalah pakaian tradisional Yogyakarta yang sangat khas dengan motifnya dan bentuk pakaiannya. Surjan sendiri terbagi menjadi 3 jenis yaitu Surjan Lurik, Surjan Ontokusumo dan Surjan Jaguar. Dan Surjan yang paling populer adalah Surjan Lurik, yang mana Surjan Lurik menjadi pakaian yang dikenakan oleh Sunan Kalijaga yang menggambarkan kesederhanaan. Dan untuk pelengkapnya, Surjan dipadukan dengan bawahan kain jarik dan penutup kepala berupa blangkon. 2. Pakaian Adat Kebaya Yogyakarta Kebaya Yogyakarta merupakan pakaian tradisional yang dikenakan oleh kaum wanita Yogyakarta untuk kegiatan sehari-hari. Dipadukan dengan kain batik atau kain jarik sebagai bawahan serta rambut yang ditata menjadi konde. Meskipun di daerah lain di Indonesia juga terdapat pakaian adat Kebaya, namun kebaya Jogja memiliki ciri khas dan keunikannya tersendiri. Yaitu berupa busana blus tipis yang dikenakan untuk menutupi kemben. Kebaya Yogyakarta memiliki makna filosofi yaitu simbol dari cerminan perilaku wanita Yogyakarta yang lemah lembut. 3. Pakaian Adat Sabukwala Pakaian adat Sabukwala adalah pakaian yang dikenakan oleh anak perempuan untuk acara upacara adat tetesan yakini sunatan anak perempuan. Baju adat Sabukwala terdiri dari kain cindhe, ikat pinggang yang disebut bludiran, lonthong dan slepe. Untuk mempercantik pakaian adat ini ditambah dengan aksesoris seperti gelang kana, subang, serta kalung susun. 4. Pakaian Adat Peranakan Jika kamu pernah melihat pakaian abdi dalem keraton Yogyakarta, itu adalah pakaian adat Yogyakarta yang disebut sebagai Peranakan. Pakaian adat Peranakan adalah pakaian abdi dalem untuk kaum laki-laki. Yang ana pakaian ini digunakan sebagai pakaian dinas keraton Yogyakarta. Pakaian adat Peranakan Terdiri dari atasan kain lurik dengan warna hitam atau biru tua yang bermotif garis telupat. Sedangkan untuk bawahan terdiri dari kain jarik sinjang, bebed dan nyamping yang bermotif batik Jogja. Nah untuk aksesoris kepala, seorang abdi dalam diharuskan menggunakan blangkon yang menjadi ciri khas Yogyakarta. 5. Pakaian Adat Kasatrian Ageng Selain pakaian adat Yogyakarta yang dikenakan dalam kehidupan sehari-hari, Yogyakarta juga memiliki pakaian adat khusus untuk upacara pernikahan. Yakini pakaian adat Kasatrian Ageng. Selain menjadi pakaian adat pengantin Jogja, Pakaian Kasatrian Ageng juga dikenakan pada acara upacara adat malam selikuran. Pakaian adat yang dikenakan oleh pengantin pria berupa kain batik prada dengan motif khas Jogja yakini sidoasih dan sidoluhur. Kain batik ini merupakan pakaian adat untuk bahwan sang pengatin pria. Sementara untuk baju atasannya, pengantin pria mengenakan Surjan sutra yang bermotif daun maupun bunga. Dilengkapi dengan ikat pinggang keris, timang kretep serta kuluk kanigara hitam. Untuk aksesorisnya sendiri berupa bros, rantai, korset, serta keris. Sementara untuk pengantin wanita mengenakan kebaya kutu baru panjang berbahan sutra untuk baju atasan. Dihiasi juga dengan 3 bros sebagai penutup kancing dan untuk mempercantik penampilan. Untuk pakaian bawahnya mengenakan kain batik yang motifnya sama dengan kain batik yang dikenakan oleh pengantin pria. Aksesoris yang dikenakan oleh pengantin wanita ialah kalung, giwang, gelang dan cincin. Untuk hiasan kepalanya ditambahkan dengan kembang goyang atau mahkota khas Yogyakarta. 6. Pakaian Adat Paes Ageng Jangan Menir Yogyakarta juga memiliki pakaian adat pernikahan lainnya yakini Pakaian Adat Paes Ageng Jangan Menir. Pada zaman dulu, pakaian adat ini digunakan untuk acara adat boyong yaitu pern dari keraton menuju ke kediaman pengantin pria. Namun pakaian adat ini juga dikenakan pada upacara adat panggih. Pakaian Adat Paes Ageng Jangan Menir yang dikenakan oleh pengantin pria berupa blenggen, kain chinde kembaran, ikat pinggang, ikat pinggang, kamus bludiran, kuluk kanigara dan senjata tradisional keris branggah. Llu aksesoris yang dikenakan oleh gantin pria adalah 3 buah bros, kelat bahu motif ular naga, oncen, karset, gelang kana, kalung susun tiga khas Yogyakarta dan cincin. Sedang pakaian untuk pengantin wanita berupa kain chinde untuk kemben, baju blenggen beludru panjang, kain biasa dengan warna senada dengan kemben, baju blenggen tanpa kuthu baru, slepe, slepe dan udhet Untuk aksesoris yang digunakan terdiri dari kalung susun tiga, kelat bahu motif ular naga, sengkang royok, gelang kana dan cincin. Pakaian Adat Paes Ageng Kebesaran Pakaian adat Yogyakarta yang dikenakan dalam acara pernikahan adalah pakaian adat Paes Ageng Kebesaran. Pakaian pernikahan yang dikenakan oleh mempelai pria berupa kain kampuh yakini sebuah kain bermotif batik sidomukti yang memiliki panjang 4 meter yang itkan pada padan pengantin pria. Selain itu, mempelai pria juga mengenakan celana dhe, lhontong atau sabuk, ikat pinggang bordir, timang kreteb, buntal, kuluk kanigara polos dengan warna biru, mogo dan keris branggah, Dan untuk aksesorisnya sendiri terdiri dari gelang kana, kelat bahu, cincin, subang ronyok, korset dan kalung susun tiga. Sedangkan pakaian yang dikenakan oleh pengantin wanita adalah kain kampuh sebagai busananya, slepe, udhet cindhe serta kain cindhe. Untuk aksesoris yang dikenakan terdiri dari sengkang ronyok, gelang kana, kalung susun tiga, kelat bahu, dan cincin. Demikianlah pembahasan tentang rumah adat khas Daerah Istimewa Yogyakarta. Jika kamu ingin mengetahui pakaian adat dari daerah lain, kamu bisa mengunjungi halaman blog Mamikos. Di sana tersedia berbagai informasi seperti rumah adat dan pakaian adat suatu daerah di Indonesia. Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu Kost Dekat UGM Jogja Kost Dekat UNPAD Jatinangor Kost Dekat UNDIP Semarang Kost Dekat UI Depok Kost Dekat UB Malang Kost Dekat Unnes Semarang Kost Dekat UMY Jogja Kost Dekat UNY Jogja Kost Dekat UNS Solo Kost Dekat ITB Bandung Kost Dekat UMS Solo Kost Dekat ITS Surabaya Kost Dekat Unesa Surabaya Kost Dekat UNAIR Surabaya Kost Dekat UIN Jakarta Yuksimak informasi selengkapnya dari masing-masing rumah adat Jawa Tengah di bawah ini: 1. Rumah Joglo. Rumah adat Jawa Tengah yang sudah populer dan banyak dikenal ialah Joglo. Rumah joglo kabarnya dibangun untuk kalangan menengah ke atas. Bahkan, di beberapa daerah, rumah adat ini dikhususkan untuk para bangsawan.
Bicara mengenai Daerah Istimewa Yogyakarta, ada banyak hal menarik yang bisa dikulik dari kota tersebut. Salah satunya adalah sejumlah upacara adat khas Yogyakarta, yang masih tetap dilaksanakan hingga hari ini. Lantas, apa saja upacara adat yang masih eksis di Jogja? Selain terkenal dengan tempat wisatanya yang indah, Yogyakarta juga dikenal sebagai kota yang memiliki banyak aneka macam kebudayaan dan adat istiadat yang masih sangat kental. Di zaman yang semakin maju dan modern ini, ternyata beberapa upacara adat ini pun masih bisa Anda temukan di beberapa daerah di Yogyakarta. Bahkan beberapa upacara adat tersebut berhasil menjadi daya tarik bagi wisatawan. Pasalnya tidak hanya unik, tetapi para wisatawan juga dapat menambah ilmu tentang tradisi di suatu tempat. Biasanya, upacara adat ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali. 10 Upacara Adat Khas Yogyakarta 1. Upacara Sekaten Upacara Sekaten merupakan sebuah tradisi yang diperuntukkan untuk merayakan hari ulang tahun Nabi Muhammad SAW dan biasa diadakan setiap tanggal 5 bulan Rabiul Awal tahun hijriah bulan Jawa mulud di alun-alun utara Yogyakarta dan Surakarta. Awal mulanya, Sekaten diadakan oleh Pendiri Keraton Yogyakarta, yaitu Sultan Hamengkubuwono 1 untuk mengundang masyarakat Jogja untuk mengikuti dan memeluk agama Islam. Upacara ini dimulai saat malam hari dengan iring-iringan abdi dalem keraton bersama dengan lantunan musik dari dua set Gamelan Jawa Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu. Sebagai informasi, Upacara Sekaten ini dilaksanakan selama tujuh hari berturut-turut, atau tepatnya sampai tanggal 11 bulan Jawa mulud. Dan kedua set gamelan ini akan terus dimainkan sampai acara berakhir. Artikel Terkait 5 Upacara Pemakaman Termahal di Indonesia 2. Upacara Grebeg Muludan Setelah berakhirnya Upacara Sekaten, masyarakat Yogyakarta langsung melaksanakan Upacara Grebeg Muludan pada tanggal 12 bulan mulud atau 12 Rabiul Awal. Upacara ini diadakan sebagai wujud syukur atas kemakmuran yang diberikan oleh Tuhan. Dalam prosesi upacara ini, Anda juga akan melihat iring-iringan abdi dalem keraton yang membawa gunungan yang terbuat dari beras ketan, makanan, buah-buahan, hingga sayur-sayuran. Nantinya, gunungan tersebut akan dibawa dari Istana Kemandungan menuju ke Masjid Agung. Para masyarakat di sana percaya bahwa bagian dari gunungan ini akan membawa berkah untuk mereka. Maka tak heran, banyak orang yang berlomba-lomba untuk mengambil bagian gunungan yang dianggap sakral. Kemudian, mereka akan menanamnya di sawah ladang miliknya. 3. Upacara Tumplak Wajik Dua hari sebelum perayaan Grebeg, Upacara Tumpak Wajik dilaksanakan terlebih dulu di halaman Magangan Kraton Yogyakarta pada pukul sore. Acara ini menandai dimulainya proses pembuatan gunungan, simbol sedekah raja kepada rakyat. Pada saat prosesi Tumplak Wajik berlangsung, sejumlah abdi dalem turut mengiringi dengan suara tetabuhan dari lesung, alat tradisional yang biasa digunakan untuk mengolah padi menjadi beras. Begitu prosesi Tumplak Wajik selesai, barulah Upacara Grebeg Muludan bisa dilaksanakan pada hari berikutnya. 4. Upacara Siraman Pusaka Upacara Siraman Pusaka Kraton merupakan tradisi untuk memandikan setiap pusaka milik Ngarsa Dalem atau milik Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Biasanya, upacara ini dilaksanakan selama dua hari pada bulan Sura dan bersifat tertutup. Dengan kata lain, upacara adat khas Yogyakarta ini tidak bisa disaksikan masyarakat umum. Pusaka yang dibersihkan pun bermacam-macam, mulai dari tombak, keris, pedang, kereta, ampilan, dan masih banyak lagi. Bagi Kraton Yogyakarta, pusaka paling penting adalah tombak Ageng Plered, Keris Ageng Sengkelat, dan Kereta Kuda Nyai Jimat. Artikel Terkait Melasti Makna, Asal Usul dan Tata Cara Pelaksanaan Upacara Melasti 5. Upacara Labuhan Upacara Labuhan merupakan salah satu upacara adat yang dilakukan oleh raja-raja di Keraton Yogyakarta dan sudah berlangsung sejak zaman Kerajaan Mataram Islam pada abad ke XIII hingga sekarang. Upacara ini dilaksanakan dengan tujuan meminta keselamatan, ketentraman, dan kesejahteraan masyarakat serta Kraton Yogyakarta sendiri. Selain itu, Upacara Labuhan juga dilaksanakan di empat lokasi yang berbeda, yakni Pantai Parangkusumo, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan Dlepih Kahyangan. Dan upacara adat ini juga dilakukan setiap delapan tahun sekali. Dalam prosesinya, banyak perlengkapan yang harus disiapkan. Mulai dari gunungan, kain batik, rambut, kuku milik Sri Sultan yang dikumpulkan selama satu tahun, hingga sejumlah abdi dalem. Kemudian benda-benda milik Sri Sultan tersebut akan dihanyutkan. Dan masyarakat diperbolehkan untuk mengambil benda Labuhan tersebut. 6. Upacara Nguras Enceh Upacara Nguras Enceh menjadi upacara adat khas Yogyakarta yang sayang untuk dilewatkan. Tradisi ini dilaksanakan setiap bulan Sura dalam kalender jawa dan diikuti oleh abdi dalem Kraton Surakarta dan Yogyakarta. Dan dilaksanakan bertepatan dengan hari Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon. Tujuan dari upacara adat ini adalah untuk membersihkan diri dari hati yang kotor. Upacara ini diawali dengan membersihkan empat gentong di makam para Raja Jawa di daerah Imogiri, Bantul, Jawa Tengah. Empat gentong tersebut diantaranya adalah Nyai Siyem dari Siam, Kyai Mendung dari Turi, Kyai Danumaya yang berasal dari Aceh, dan Nyai Danumurti dari Palembang. Air dari keempat gentong tersebut dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit dan menghilangkan kemalangan bagi siapa saja yang mengikuti Upacara Nguras Enceh itu. Artikel Terkait Tradisi Bakar Tongkang, Upacara Bakar Kapal Kayu dari Bagan Siapi-api 7. Upacara Saparan Upacara Saparan atau disebut juga Bekakak ini diadakan oleh masyarakat Desa Ambarketawang, yang terletak di Kecamatan Gamping, Sleman setiap hari Jumat di bulan Sapar. Upacara adat ini dilaksanakan dengan penyembelihan Bekakak, yang artinya korban penyembelihan hewan atau manusia. Namun untuk upacara adat ini hanya menggunakan tiruan manusia saja, yaitu sepasang boneka pengantin jawa yang terbuat dari tepung ketan. Tujuan awal dilaksanakannya Upacara Saparan ini adalah untuk menghormati arwah Ki Wirasuta dan Nyi Wirasuta sekeluarga. Mereka adalah abdi dalem Hamengkubuwono 1 yang disegani. Kemudian pada akhirnya berubah, kini upacara adat itu bertujuan untuk memohon keselamatan masyarakat agar terhindar dari segala bencana. 8. Upacara Rebo Pungkasan Wonokromo Pleret Upacara Rebo Pungkasan adalah upacara adat yang masih terus dilaksanakan oleh masyarakat di desa Wonokromo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Diberi nama Rebo Pungkasan karena dilaksanakan pada hari Rabu terakhir di bulan Sapar. Upacara Rebo Pungkasan ini bertujuan untuk mengungkap rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa YME. Dahulu, upacara ini dilaksanakan di depan masjid dan seminggu sebelum acara sudah banyak diadakan acara meriah, seperti pasar malam. Namun, karena banyak yang menilai prosesi ini mengganggu orang yang sedang beribadah, maka Upacara Rebo Pungkasan ini dipindahkan ke depan Balai Desa di lapangan Wonokromo. 9. Upacara Adat Pembukaan Cupu Ponjolo Upacara Adat Pembukaan Cupu Ponjolo ini diadakan setiap Pasaran Kliwon di penghujung musim kemarau pada bulan Ruwah berdasarkan kalender Jawa. Orang-orang di Desa Mendak Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul, DIY masih melaksanakan upacara adat ini sampai sekarang. Cupu Ponjolo diketahui adalah tiga buah cupu keramat yang disimpan dalam kotak kayu berukuran 20 x 10 x 7 cm dan dibungkus menggunakan ratusan lembar kain mori. Tujuan dari upacara adat ini sebenarnya adalah untuk membuka dan mengganti pembungkus cupu tersebut. Menariknya, banyak masyarakat yang percaya bahwa setiap gambar yang terlukis di kain mori pembungkus cupi itu adalah bentuk ramalan peristiwa setahun ke depan. 10. Upacara Jamasan Kereta Pusaka Terakhir, upacara adat yang masih dilaksanakan di Yogyakarta sampai hari ini adalah Upacara Jamasan Kereta Pusaka. Upacara ini biasa digelar di Museum Keraton Yogyakarta pada setiap malam Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon di bulan Suro. Tujuan dari Upacara Jamasan adalah untuk merawat dan membersihkan benda-benda pusaka milik Keraton Yogyakarta, seperti Kereta, Gamelan, Keris, Tombak, dan lain-lain. Menariknya, banyak warga berlomba-lomba untuk mendapatkan air cucian bekas dari benda pusaka tersebut, karena percaya air tersebut bisa mendatangkan keberkahan dan keberuntungan. Itulah upacara adat di Yogyakarta yang masih tetap terjaga sampai hari ini. Parents, pernah mengikuti salah satu upacara tersebut? *** Baca juga Upacara Kerik Gigi, Tradisi Menyakitkan Suku Mentawai demi Tampil Cantik Berlangsung Meriah, Inilah Tradisi Upacara Pemakaman Rambu Solo dari Toraja Mengenal Keunikan Tradisi Mekotek Asal Bali, Upacara Tolak Bala Warga Pulau Dewata Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.
KebudayaanNanggroe Aceh Darussalam - Aceh melambangkan cacat satu alam Indonesia yang letaknya berada di bagian amat kesudahan sendiri dari rangkaian kepulauan Nusantara. Aceh ataupun yang lagi dikenal dengan Nanggroe Aceh Darussalam melambangkan genus pribumi yang memegang akar babad eksklusif alokasi Indonesia.
- 19 Maret 2018 1345 WIB - Apa yang ada di benak Anda ketika pertama kali mendengar kata Yogyakarta? Sejarahnya yang kental, kuliner gudegnya yang menggoda selera, atau Malioboro sebagai surga belanja favorit para shopaholic? Tidak keliru. Yogya atau Jogja memang menyimpan daya tarik yang membuat siapa saja tersihir untuk kembali ke sana. Nah, bagi Anda yang berencana menghabiskan waktu liburan di Kota Pelajar yang satu ini, ada baiknya kenali dulu sejarah, tradisi dan budaya, serta daya tarik Yogyakarta agar momen liburan Anda nanti semakin berkesan. Sejarah Yogyakarta Memiliki nama resmi Daerah Istimewa Yogyakarta DIY, daerah ini merupakan provinsi tertua kedua di Indonesia setelah Jawa timur. Sesuai Namanya, Yogya yang berstatus istimewa memiliki kewenangan khusus untuk mengatur dan mengurus wilayahnya sendiri. Meski diperoleh sejak zaman kolonial sebelum Indonesia merdeka, status tersebut masih dipertahankan sampai sekarang, lho. Karena itulah, Yogyakarta juga disebut sebagai Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan sultan sebagai kepala pemerintahan setara gubernur. Tradisi dan Budaya Hingga saat ini, Yogyakarta masih lekat dengan berbagai tradisi dan budaya uniknya. Beberapa di antaranya bahkan diselenggarakan secara rutin setiap tahunnya. Nah, apa saja sih itu? - Upacara Sekaten Sekaten merupakan gelaran upacara adat yang cukup terkenal di Jogja. Upacara ini diselenggarakan setiap tanggal 5 Maulid, menjelang hari lahir Nabi Muhammad, di alun-alun utara Yogyakarta. Upacara ini berlangsung selama 7 hari. Umumnya tradisi ini juga dibarengi dengan adanya pasar malam Sekaten. - Grebeg Muludan Nah, menjelang perayaan Sekaten usai, upacara akan ditutup dengan Grebeg Muludan, yakni pada 12 Rabiul Awal tepat hari lahir Nabi Muhammad. Ritual ini ditandai dengan adanya gunungan tinggi yang tersusun dari beras ketan, makanan pokok, sayur, serta buah-buahan yang dikawal oleh 10 macam Bregada kompi prajurit keraton Wirabraja, Dhaheng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Nyutra, Ketanggung, Mantrirejo, Surakarsa, dan Bugis. Arak-arakan ini dimulai dari Istana Kemandungan, melewati Siti Hinggil dan Pagelaran, sampai berakhir di Masjid Agung. Gunungan yang sudah didoakan selanjutnya dibagikan kepada masyarakat dengan harapan agar mereka mendapat berkah. - Siraman Pusaka Upacara berikutnya yang masih rutin digelar di tanah Yogyakarta adalah Siraman Pusaka. Seperti Namanya, upacara ini diadakan untuk membersihkan segala macam benda pusaka yang terdapat di keraton kesultanan. Tradisi ini dilaksanakan setiap bulan Suro pada hari Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon. Beberapa pusaka yang terbilang penting bagi Keraton Yogyakarta antara lain tombak Ageng Plered, keris Ageng Sengkelat, dan kereta kuda Nyai Jimat. ** Aturan Unik di Yogyakarta Selain sejarah, tradisi, dan budayanya yang kaya, Yogyakarta ternyata memiliki aturan unik tak tertulis yang hingga saat ini masih dijalankan. Apa saja, sih, itu? - Tidak boleh mengenakan pakaian berwarna hijau di Parangtritis Konon, hijau adalah warna kesukaan Nyi Roro Kidul, sehingga siapa pun yang berkunjung ke Pantai Parangtritis diimbau untuk tidak mengenakan pakaian dengan warna hijau. Konsekuensi jika aturan ini dilanggar pun cukup seram, yakni tenggelam di laut. - Mengulek sambal menghadap ke selatan Untuk menghormati Nyi Roro Kidul, warga Gunungkidul sampai sekarang masih menerapkan ritual yang satu ini, lho; menghadap selatan ketika mengulek sambal. - Pengantin dilarang lewat perempatan Palbapang Menurut cerita, pengantin atau orang sakit yang nekat lewat perempatan Palbapang dengan tangan kosong akan mendapat celaka. Sebagai gantinya, mereka diwajibkan membawa ayam hidup sebagai “tumbal”. Wah, ternyata banyak sekali tradisi dan cerita unik yang bisa kita gali dari Yogyakarta, ya. Menikmati kota ini tentu tidak cukup hanya dalam sehari. Untuk itu, percayakan keperluan akomodasimu pada Airy. Klik link untuk mendapatkan harga penerbangan termurah. Selamat berlibur!
BajuPengantin Adat Jawa Warna Biru Tua - Pakaian Adat Di Yogyakarta Lengkap Gambar Dan Penjelasannya Seni Budayaku By kayunsinaga97 July 20, Terlepas dari adat dan budaya, pengantin bisa memilih warna baju pengantin sesuai keinginan dan gaya yang ingin ditampilkan di hari . Baju pengantin berwarna biru mempunyai makna ketenangan dan kedamaian.
Daerah Istimewa Yogyakarta adalah daerah istimewa setingkat provinsi di Indonesia yang merupakan peleburan bekas Negara Kesultanan Yogyakarta dan Negara Kadipaten Paku Alaman. Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa bagian tengah dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan Samudera Hindia. Pariwisata Pariwisata merupakan sektor utama bagi DIY. Banyaknya objek dan daya tarik wisata di DIY telah menyerap kunjungan wisatawan, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Berikut beberapa wisata yang berada di DIY Museum Hamengku Buwono IX di dalam kompleks Keraton Yogyakarta Candi Prambanan Candi Borobudur Tugu Yogyakarta Aspek Seni 1. Batik salah satu kerajinan khas Indonesia terutama daerah Yogyakarta. Batik Yogya terkenal karena keindahannya, baik corak maupun warnanya. Menurut teknik -Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. -Batik cap adalah kain yang dihias dibentuk dengan menggunakan capbiasanya terbuat dari tembaga. -Batik lukis adalah proses pembuatan batik dengan cara langsung melukis pada kain putih. 2. Wayang pengrajin wayang banyak terdapat di daerah pasar ngasem, bahan-bahan dari wayang ini terbuat dari kulit sapi dan kerbau, sehingga tidak merusak dan awet. Masyarakat Indonesia memeluk kepercayaan animisme berupa pemujaan roh nenek moyang yang disebut hyang atau dahyang, yang diwujudkan dalam bentuk arca atau gambar. 3. Tarian-Tarian Daerah Istimewa Yogyakarta a. Tari Serimpi Sangupati tarian keraton pada masa lalu disertai suara gamelan dengan gerak tari yang lebut dan menawan hati. b. Tari Bedaya merupakan tarian keraton yang ditarikan oleh 9 putri dengan irama yang lemah gemulai dan lembut. c. Tari Merak suatu tari yang mengisahkan keindahan dan kebebasan alam bebas yang dialami burung merak. Rumah Adat Rumah adat DIY dinamakan Bangsal Kencono Kraton Yogyakarta merupakan sebuah bangunan pendopo. Halamannya sangat luas, ditumbuhi tanaman dan dilengkapi beberapa sangkar burung. Di depan Bangsal Kencono terdapat dua patung dari Gupolo, sang raksasa yang memegang gadasejenis alat pemukul. Bangsal Kencono Pakaian Adat Pria Yogyakarta menggunakan pakaian adat berupa tutup kepala destar, baju jas dengan leher tertutup dan keris yang terselip di pinggang bagian belakang. Mengenakan kain batik yang bercorak sama dengan sang wanita. Sedangkan wanitanya memakai kebaya dan kain batik. Perhiasannya berupa anting-anting, kalung dan cincin. Dan pada wanita menggunakan sanggul kepala. Upacara Adat Daerah Istimewa Yogyakarta 1. Saparan Bekakak Upacara adat saparan bekakak merupakan ritual yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I. Ritual yang digelar sebagai bentuk permohonan keselamatan warga Gamping ini disebut Saparan Bekakak karena dalam pelengkap upacaranya terdapat sepasang pengantin boneka bekakak yang disembelih sebagai simbol persembahan. Yang menarik dalam upacara ini, sepasang pengantin bekakak akan diarak menuju tempat penyembelihan yakni Gunung Gamping dan Gunung Kiling. 2. Tradisi Nguras Enceh Upacara Nguras Enceh atau mengganti air gentong adalah tradisi yang dilakukan pada setiap sura khususnya pada hari Jumat Kliwon bertempat di kompleks makam Raja-Raja Mataram, Imogiri, empat gentong yang akan dikuras dalam acara ini. Keempatnya merupakan hadiah dari Kerajaan Palembang, Kerajaan Aceh, Kerajaan Ngerum Turki, dan Kerajaan Siam Thailand kepadaSultan Agung 1613-1645 sebagai penguasa Kerajaan Mataram saat itu sebagai tanda persahabatan. Sebelum upacara ini digelar, dilakukan Upacara Ngarak Siwur Siwur = gayung air dari batok kelapa dengan tangkai bambu dengan arak-arakan prajurit menuju kompleks makan Raja-raja Imogiri. Setelah itu, upacara nguras Enceh dimulai oleh abdi dalem Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta. Yang menarik air cidukan dari gentong tersebut selalu diperebutkan warga karena dianggap memiliki tuah tertentu. 3. Tradisi Cupu Panjala Upacara ini digelar setiap pasaran Kliwon di penghujung musim kemarau pada bulan Ruwahkalender Jawa bertempat di Desa Mendak Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul. Masyarakat mempercayai bahwa gambar yang terlihat dalam lapisan kain mori pembungkus cupu merupakan ramalan peristiwa setahun ke depan. Baik itu menyangkut keadaan sosial, perekonomian, lingkungan hidup, bahkan dunia politik. sumber
LukisanKarya Affandi Lengkap Terkenal Beserta Keterangan Penjelasannya . Lukisan adalah karya seni rupa 2 dimensi pada sebuah permukaan seperti kanvas dinding atau kertas. Pengertian Ciri Ciri Sejarah dan Contoh Gambar 10 Lukisan Paling Terkenal di Dunia Yang Sangat Fenomenal - Seni Budaya 10 Karya Old Master Indonesia Termahal 2017 Teknik
Makanan dan minuman tradisional Yogyakarta telah lama ada dan digemari oleh masyarakat dengan resep spesifik yang diwariskan turun-temurun. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut. Makanan Khas Yogyakarta Gudeg, merupakan makanan yang paling dikenal dari Yogyakarta. Cita rasa gudeg manis dan gurih. Gudeg berasal dari bahasa Belanda gut dag yang berarti cukup bagus atau enak. Begitu populernya masakan ini, sampai-sampai Yogyakarta dijuluki Kota Gudeg. Gudeg dibuat dari nangka muda yang dikupas, diiris-iris lalu direbus sampai masak. Santan, bawang merah, bawang putih, laos, kemiri, ketumbar, daun salam, dan garam dicampurkan ke dalam nangka tersebut. Dimasak lagi sampai kering dan berwarna kecokelatan. Warna cokelat dapat juga dibuat dengan memasukkan daun jati ke dalam masakan. Untuk menghasilkan rasa yang khas digunakanlah arang dari batok kelapa untuk pemanasannya, sehingga panas yang dihasilkan bisa merata dan tahan lama. Dibutuhkan pemanasan lima sampai enam jam untuk menghasilkan gudeg yang berkualitas dan tahan lama. Nasi uduk, disebut juga nasi gurih. Biasanya, nasi uduk dihidangkan pada upacara kenduri dan dibagi-bagikan dengan wadah dari daun pisang. Nasi uduk dibuat dari beras yang sudah dicuci bersih, dikukus sampai setengah matang, kemudian dicampur dengan santan dan daun salam. Lantas nasi uduk dikukus lagi sampai masak. Mayoritas nasi uduk disajikan dengan lauk ingkung ayam. Thiwul, merupakan makanan pokok sebagian kecil penduduk Gunung Kidul. Thiwul terbuat dari ketela pohon yang dijemur sampai kering, ditumbuk sampai halus dan disaring, diberi sedikit air dan dibuat bulatan kecil-kecil lalu dikukus sampai masak. Biasanya thiwul dihidangkan dengan sayur tempe. Growol, merupakan makanan pokok dari Kulon Progo. Growol terbuat dari ketela pohon yang sudah dikupas, dicuci, terus direndam dalam air selama dua sampai tiga hari. Setelah lunak, ia diangkat, dicuci bersih, dan ditiriskan. Sesudah air mengering, ia dicincang sampai lumat, baru dikukus hingga masak. Lazimnya, growol dicetak dengan alas daun pisang. Growol dimakan dalam bentuk irisan dengan sayur lodeh. Lauknya tempe benguk yang sudah dibacem. Makanan ini dapat ditemukan di Pasar Sentolo. Nasi jagung, merupakan makanan pokok sebagian kecil penduduk di lereng atas Gunung Merapi. Jagung yang sudah kering direndam dalam air yang telah diberi kapur selama setengah jam. Lantas jagung ditiriskan dan ditumbuk sampai halus. Setelah menjadi tepung, jagung dikukus sampai masak. Biasanya hidangan ini disajikan bersama sayur lombok dan ikan asin. Minuman Khas Yogyakarta Beras kencur, oleh sebagian masyarakat dianggap sebagai minuman yang selain menyegarkan juga meningkatkan stamina tubuh. Beras kencur terbuat dari beras yang direndam dalam air, ditiriskan, terus ditumbuk sampai halus. Kencur yang sudah dikupas kemudian ditumbuk dan dicampur dengan beras yang telah halus. Selanjutnya diberi air secukupnya, terus disaring. Minuman ini dihidangkan dengan diberi gula jawa atau gula pasir dan sedikit jeruk nipis. Beras kencur cocok diminum sehabis berolah raga. Wedang secang, yang berwarna merah merupakan minuman kesukaan Sri Sultan HB IX. Minuman ini dapat menjaga kesehatan. Badan yang masuk angin, bila minum wedang secang hangat, bisa bugar kembali. Wedang secang terbuat dari serutan kayu secang, dua lembar daun cengkih yang sudah kering, irisan kulit pohon kayu manis, merica putih, daun serai, cabe rawit, dicampur dengan jahe yang sudah dibakar dan dipukul-pukul sampai gepeng. Semua bahan dimasukkan ke dalam kendil tanah liat, terus dipanaskan dengan air sampai mendidih. Setelah disaring, wedang secang dihidangkan dengan gula batu. Di Makam Imogiri, bahan ramuan wedang secang dijual sebagai oleh-oleh bagi para peziarah. Dawet, merupakan minuman pelepas dahaga yang cukup populer di Yogyakarta. Salah satu unsur dawet adalah cendol. Untuk membuat cendol, panaskan tepung beras hingga mendidih dan tuang dengan saringan ke dalam baskom yang berisi air dingin. Tepung beras yang jatuh ke dalam air dingin akan mengental membentuk cendol. Masukkan cendol ke dalam mangkuk, tambahkan santan kelapa dan sirup gula jawa. Untuk menambah sedap, tambahkan daun pandan wangi ketika membuat sirup gula kelapa. Di pasar tradisional masih kita temukan penjual dawet yang menjajakan dagangannya dengan memakai tenggok, wadah besar dari anyaman bambu.
LowonganKerja Kebudayaan Sumatera Utara Lengkap Beserta Gambar Dan Desember 2021 Update Pkl: 08:29:15 am | Tgl: Rabu 1 Desember 2021 Jakarta, DKI Jakarta | Rp 3.000.000 | full-time Home » Lowongan Kerja Kebudayaan Sumatera Utara Lengkap Beserta Gambar Dan Desember 2021
Pernahkah kalian berkunjung ke Keraton Yogyakarta? Dan apakah kalian tahu nama-nama rumah yang ada di lingkungan Keraton itu? Yak, bangunan disana dibangun dengan model rumah Joglo, yang dalam perkembangannya akan mempengaruhi jenis rumah adat Yogyakarta. Walaupun Jawa Tengah dan Jawa Timur juga memiliki rumah adat bernama rumah Joglo, tetapi terdapat perbedaan lo di antara mereka. Apa saja perbedaan dan kemiripannya? Yuk disimak. Penjelasan Rumah Adat YogyakartaFilosofi dan Makna ArsitekturCiri Khas dan Keunikan A. Konstruksi Rumah B. Konfigurasi RuanganC. Desain anti GempaJenis Rumah Adat Yogyakarta A. Rumah Joglo Keraton SejarahMacam macam Joglo Keraton Komposisi Ruang dan KeterangannyaFilosofi, Keunikan dan Ciri KhasB. Rumah Joglo Rakyat Asal usulMacam macam Rumah Joglo Rakyat Bagian Rumah dan PenjelasannyaOrnamen HiasA. Motif Flora Tumbuhan B. Motif Fauna Hewan C. Motif Alam Rumah adat dari Daerah Istimewa Yogyakarta DIY berbentuk rumah Joglo. Tidak hanya di Yogyakarta, Joglo sebenarnya juga banyak dikembangkan dan diakui sebagai rumah suku Jawa yang bermukim di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Nama Joglo sendiri merupakan akronim dari tajug loro, sebagai hasil stilasi dari bentuk atap meru tajug bertumpuk dua loro lapis pada peratapan rumah. Di kalangan keraton di Yogyakarta rumah Joglo dikenal dengan sebagai Joglo Keraton yang identik dengan bangunan Bangsal Kencono. Bangunan ini kemudian mempengaruhi perkembangan perumahan di Yogyakarta, karena masyarakatnya masih memegang teguh konsentris kehidupan keraton. Rumah Joglo Yogyakarta baik di kalangan keraton maupun rakyat, memiliki aksen bangunan tradisional Jawa dengan ciri atap berbentuk bubungan tinggi seperti gunungan yang namanya atap meru bertumpuk tiga. Uniknya, walaupun tidak bertipologi rumah panggung, rumah joglo ini sudah dikembangkan dengan konsep anti gempa, mengacu pada geografis Yogyakarta yang berada di lempengan rawan gempa. Filosofi dan Makna Arsitektur Suku Jawa umumnya memaknai rumah sebagai hunian yang berarti sesuatu dengan batasan baik secara vertikal maupun horizontal. Rumah juga merupakan pusat interaksi dengan sesama, sehingga bangunan rumah didesain sedemikian rupa untuk menciptakan kenyamanan dan kebahagian. Masyarakat Yogyakarta memegang teguh kepercayaan yang mengarah pada konsep hubungan antara Laut Selatan sumbu bawah, kota Yogyakarta sumbu tengah dan Gunung Merapi sumbu atas. Kepercayaan ini kemudian melahirkan aturan tata letak dalam membangun rumah di Yogyakarta. Bangunan Joglo keraton mempunyai orientasi arah ke utara menghadap Gunung Merapi, yang dipercaya sebagai titik pusat kekuatan alam. Sedangkan joglo rakyat dibangun dengan arah hadap ke selatan menuju laut Selatan. Filosofi sumbu ini juga memberi makna keseimbangan. Implementasinya adalah pemilihan bangun persegi sebagai bentuk dasar rumah Joglo, yang memberikan kesan simetris, kokoh dan seimbang. Kepercayaan terhadap sumbu atas yang berada di Gunung Merapi menginsipirasi bentuk atap Meru di rumah Joglo, yakni peratapan brunjung yang menjulang tinggi ke atas. Ciri Khas dan Keunikan A. Konstruksi Rumah 1. Struktur Atap Esensi dasar bentuk atap rumah Joglo Yogyakarta adalah bertingkat dari atap brunjung, atap penanggap, dan atap emper. Atap brunjung menjulang ke atas dengan bentuk lebih kecil dan curam. Sementara atap di bawahnya penanggap dan emper berbentuk trapesium landai dan melebar ke bawah. Berdasarkan susunannya, atap Joglo dibedakan menjadi Lambang Gantung dan Lambang Sari. Ciri atap Lambang Gantung pada rumah Joglo adalah terdapat celah antar susunan atap yang bermanfaat sebagai ruang sirkulasi udara. Sedangkan karakteristik atap Lambang Sari yaitu disusun secara langsung tanpa celah dari atap brunjung sampai atap emper. Perkembangan susunan dan ukuran masing-masing atap dalam rumah Joglo ini kemudian memunculkan beraneka macam jenis Joglo. 2. Struktur Tiang Utama Atap rumah Joglo ditopang oleh empat tiang utama yang disebut saka guru sebagai cerminan manunggaling kiblat papat kekuatan berasal dari empat penjuru mata angin. Lazimnya saka guru memiliki ukuran yang lebih besar daripada tiang penyokong lainnya. Saka guru berafiliasi dengan tumpang sari tumpukan balok berlapis-lapis di atas tiang membentuk ciri khas yang hanya dimiliki oleh rumah Joglo. Masing-masing saka guru disambung oleh struktur penghubung yang disebut tumpang dan sunduk. Sunduk ini merupakan konstruksi penyiku yang berfungsi sebagai stabilisator agar tiang terpancang kuat dan mampu menahan goncangan. B. Konfigurasi Ruangan Rizqi Allam, 2018 Konfigurasi ruang dalam rumah Joglo Yogyakarta dibedakan menjadi ruang publik pendopo depan, semi publik pringgitan, privat ndalem dan senthong serta ruang semi privat dapur, gandhok, dan pekiwan. Salah satu komposisi unik dalam rumah Joglo adalah adanya pringgitan, yaitu lorong yang menghubungkan pendopo dengan rungan ndalem yang ada di omah njero. Memiliki konstruksi tiga pintu depan. Sumber Rumah Joglo juga memiliki tiga buah pintu yang berjajar, pintu tengah sebagai pintu utama bernama kupu tarung diperuntukkan untuk keluarga besar. Sementara dua pintu di sebelah kanan dan kiri adalah pintu untuk besan, sebagai representasi bahwa tamu adalah bagian yang terhormat, sehingga harus memiliki tempat dan tata krama tersendiri untuk menyambutnya. C. Desain anti Gempa Rong-rongan di rumah Joglo. Sumber Prihatmaji, 2007 Detail Konstruksi anti dempa. Sumber Prihatmaji, 2007 Konstruksi penahan gempa pada rumah Joglo terbagi menjadi dua model, yakni penggunaan rong-rongan umpak-saka guru-tumpangsari dan pembebanan bangunan sebagai upaya penahan gaya lateral. Core in frame dari desain anti gempanya terdapat pada kombinasi struktur rong-rongan yang menjadi inti kekuatan dengan struktur rangka ruang saka samping-blandar-usuk yang memberikan kekakuan. Jenis Rumah Adat Yogyakarta A. Rumah Joglo Keraton Sejarah Bangsal Kencana. Sumber Keraton dalam kosmologi masyarakat Yogyakarta dianggap sebagai episentrum atau pancer. Kedudukan keraton mempunyai pengaruh besar terhadap unsur kehidupan di sekelilingnya, termasuk dalam perkembangan bentuk rumah hunian. Tipologi rumah Joglo sudah dikembangkan di Keraton Yogyakarta sejak Sri Sultan Hamengku Buwono I yaitu pada bangunan Ndalem Ageng dengan model Joglo Sinom beratap Lambang Gantung. Dan pada masa Sultan Hamengku Buwono II di tahun 1792 dimulailah pembangunan Bangsal Kencono, yang diakui sebagai representasi Joglo Keraton dalam sejarah rumah adat Yogyakarta. Bangsal Kencana merupakan pancer keraton dengan arsitektur paling indah. Posisinya berada di pelataran Kedathon di pusat kawasan Kearton Yogyakarta. Secara khusus Bangsal Kecana menjadi tempat pelaksanaan upacara atau ritual adat keraton, sebagai contoh adalah prosesi penobatan Sultan Keraton Yogyakarta. Macam macam Joglo Keraton 1. Joglo Jompongan Wibowo, Gatut M. dan Sukirman, 1998 Rumah dengan tipe Joglo Jompongan memiliki dua pengeret balok melintang yang menghubungkan antar tiang dengan bentuk rumah cenderung persegi panjang. Konstruksi bangunannya terdiri dari 16 saka tiang dengan atap lengkap brunjung, penanggep dan emper. 2. Joglo Sinom Wibowo, Gatut M. dan Sukirman, 1998 Rumah dengan jenis Joglo Semar memiliki atap berlapis tiga dengan bagian ujungnya berbentuk wuwung. Tiangnya terdiri dari 36 buah dengan 4 diantaranya adalah saka guru. Bentuk bangunnay adalah persegi dengan panjang sisi yang sama. Joglo Sinom ini diterapkan pada pembangunan Ndalem Ageng Keraton Kaswarganan Yogyakarta. 3. Joglo Pangrawit Wibowo, Gatut M. dan Sukirman, 1998 Joglo Pangrawit merupakan jenis rumah dengan atap yang memiliki regangan bertipe Lambang Gantung. Masing masing regangan antara brunjung-penanggep dan penanggep-emper penith ditopang oleh saka benthung. Tiangnya berjumlah 36, membentuk komposisi rumah berbentuk persegi panjang. Rumah jenis ini digunakan pada Bangsal Pengrawit di dalam komplek keraton. 4. Joglo Mangkurat Wibowo, Gatut M. dan Sukirman, 1998 Joglo Mangkurat memiliki desain mirip dengan Joglo Pangrawit. Bedanya, bangunannya memiliki ukuran yang lebih besar dan tinggi dan masing-masing regangan atap tidak dipancang dengan saka benthung. Regangan antara atap brunjung dan emper pada Joglo Mangkurat dihubungkan dengan balok lambangsari. Tiang penopangnya berjumlah 44 dan bangunannya berbentuk persegi panjang. Joglo jenis ini dipakai pada Bangsal Kencana Keraton Yogyakarta. 5. Joglo Trajumas Bangsal Trajumas. Sumber Rumah Joglo Trajumas memiliki pengeret berjumlah tiga buah. Atapnya tersusun dari atap brunjung yang tinggi diikuti atap penanggap dan emper yang disusun tanpa sekat. Pola penggunaannya dapat dilihat pada Bangsal Trajumas Keraton Yogyakarta. 6. Joglo Semar Tinandu Wibowo, Gatut M. dan Sukirman, 1998 Regol Danapratapa. Sumber Joglo Semar Tinandu banyak dipakai sebagai konstruksi regol atau pintu gerbang utama, seperti yang terlihat pada regol Masjid Gedhe Yogyakarta ataupun regol di kawasan keraton, salah satunya regol Danapratapa. Karakteristiknya adalah memiliki 2 pengeret yang ditopang oleh 2 saka guru. Beberapa modifikasi dari Joglo Semar Tinandu berupa penggantian saka guru menjadi beteng pagar tembok. Komposisi Ruang dan Keterangannya Wibowo, Gatut M. dan Sukirman, 1998 Kawasan Keraton Yogyakarta terbagi menjadi bagian depan, inti dan belakang dengan komposisi ruangan yang berbeda sesuai dengan kepentingannya. Secara umum, tipologi bangunan di Joglo Keraton dibedakan menjadi dua, yaitu bangsal struktur bangunan pendopo tanpa dinding dan gedhong struktur bangunan yang dilengkapi dinding. Komposisi ruangannya terbagi menjadi tiga bagian utama yaitu pendopo, pringgitan dan ndalem yang kemudian dilengkapi dengan ruang pendukung lainnya. 1. Rancang Bangun Pendopo Pintu gerbang berada di susunan paling depan rumah Joglo Keraton dan dikenal dengan nama regol. Ada rumah yang memiliki satu regol diletakkan di ujung kanan dan ada yang memiliki dua berimbang di kiri dan kanan. Sumur juga biasa berada di sayap depan bagian kanan, sebelah dalam regol. Pendopo di rumah Joglo Keraton tidak hanya berfungsi untuk menerima tamu, tetapi sering juga dipakai sebagai panggung pagelaran kesenian. 2. Rancang Bangun Pringgitan Pringgitan adalah penghubung antara bagian pendopo dengan bagian ndalem rumah. Pada konstruksi Joglo Keraton, antara pendopo dengan pringgitan terdapat ruang sela kecil yang disebut longkangan sebagai jalan masuk kendaraan pemilik rumah. Beberapa rumah dilengkapi dengan kuncung di areal depan pendopo sebagai garasi kendaraan. 3. Rancang Bangun Ndalem Bagian ndalem atau juga dikenal dengan omah njero adalah bagian utama dari susunan rumah Joglo. Ruangan ndalem terdiri dari senthong kamar kiri dan kanan yang memiliki fungsi sebagai ruang tidur, serta senthong tengah untuk penyimpanan benda pusaka sekaligus tempat peribadatan. Pintu Seketheng. Sumber Di sekeliling ndalem dibangun ruangan tambahan berbentuk leter U yang diberi nama gandhok. Gandhok difungsikan sebagai ruang tidur anak perempuan gandhok kiri dan anak laki-laki gandhok kanan serta kamar tamu untuk kerabat yang menginap. Sementara sayap belakang yang menyatu dengan gandhok merupakan bangunan pawon dapur. Bagian rumah ndalem dan gandhok dihubungkan dengan pintu kecil yang disebut seketheng. 4. Rancang Bangun Pawon Dapur atau di Jawa dikenal dengan nama pawon adalah ruang tambahan yang susunan paling belakang dalam rumah Joglo. Pawon bagi masyarakat Jawa tidak hanya berfungsi untuk memasak, tetapi merupakan manifestasi dari hasil kerja keras yang diwujudkan dalam bentuk hidangan makanan. Bangunan pawon terhubung dengan pekiwan atau struktur bangunan yang digunakan sebagai kamar mandi dan toilet. Filosofi, Keunikan dan Ciri Khas Bangsal Kencana menggunakan tipologi rumah Joglo jenis Sinom-Mangkurat. Perpaduan ini menghasilkan bentuk atap yang unik, karena menggabungkan dua jenis atap sekaligus, yakni Lambang Gantung menghubungkan atap Brunjung dengan atap Penanggap serta Lambang Sari pertemuan antara atap Penanggap dan atap Emper. Keunikan lainnya tercermin dari uleng berjumlah 6 kebanyakan 2 sebagai wujud kewibawaan keraton Yogyakarta. Ornamen yang berada di dalam Bangsal Kencana memiliki nuansa hijau dan putih sebagai bentuk sense of belongings terhadap semesta yang menjadi sumber kehidupan manusia. Selain itu, motif yang digunakan merupakan perpaduan budaya Jawa, Tiongkok, Portugis dan Belanda. B. Rumah Joglo Rakyat Asal usul Awal perkembangannya, rumah Joglo hanya digunakan di lingkungan keraton dan para bangsawan, karena rumah hunian dianggap sebagai visualisasi strata sosial pemiliknya. Terlepas dari itu, pembangunan rumah Joglo membutuhkan biaya yang besar sehingga tidak semua kalangan dapat melakukannya. Rakyat di luar keraton Yogyakarta mulanya hanya menggunakan model rumah kampung. Berdasarkan pakem hidup masyarakat yang masih menganut konsentris keraton, bentuk atap meru berlapis Joglo kemudian mulai berpengaruh ke kalangan rakyat biasa. Keluarnya bentuk Joglo ke rakyat ini sudah mengalami beberapa modifikasi dan penyederhanaan. Tujuannya adalah untuk mengurangi biaya pembuatan dan perawatan rumah Joglo yang mahal. Macam macam Rumah Joglo Rakyat Rumah Joglo yang berkembang banyak sekali mengalami modifikasi, utamanya adalah variasi pada bentuk atap. Berikut ini adalah berbagai jenis rumah Joglo beserta gambar dan keterangannya 1. Joglo Lawakan Rumah dengan desain Joglo Lawakan umumnya mempunyai usuk kerangka penopang atap menyerupai bentuk payung karena susunanya semakin melebar ke bawah. Tiang penyokongnya berjumlah 16 dengan empat tiang di tengah berperan sebagai saka guru. Memiliki empat sisi atap yang bersusun tiga brunjung, penanggap dan emper dan bentuk rumah persegi panjang. 2. Joglo Ceblokan Rumah bergaya Joglo Ceblokan memiliki konstruksi tiang yang disebut saka pendhem karena tiangnya terpendam menancap ke dalam lantai. Hal ini berbeda dengan bentuk Joglo lain yang menggunakan umpak bantalan tiang. Beberapa rumah tipe Ceblokan tidak menggunakan sunduk. 3. Joglo Apitan Atap brunjung pada Joglo Apitan menjulang lebih tinggi dibandingkan dengan rumah Joglo jenis lain. Hal ini disebabkan ukuran pengeret yang lebih pendek, sehingga dari luar struktur rumahnya menjadi kecil dan ramping. Susunan atapnya merenggang di pertemuan atap brunjung dengan penanggap. Rumahnya ditopang oleh 16 tiang dengan bentuk dasar bangunannya adalah persegi panjang. 4. Joglo Wantah Apitan Rumah Joglo Wantah Apitan memiliki bentuk menyerupai Joglo Apitan. Hanya saja jenis rumah ini memiliki jumlah tumpang, singup dan takir sebanyak lima buah. Atapnya bersusun tiga dengan model atap brunjung tinggi dan tidak memiliki regangan antar penghubung atap. Bagian Rumah dan Penjelasannya Rizqi Allam, 2018 Konfigurasi ruang pada rumah Joglo rakyat lebih sederhana dibandingkan dengan rumah Joglo Keraton. Komposisinya secara umum sama memiliki pendopo, pringgitan dan omah njero ndalem. Namun terdapat struktur yang disederhanakan dalam susunan ruangan rumah Joglo rakyat, yakni tidak adanya jalan masuk longkangan diantara pendopo dan pringgitan, serta tidak ada pula bangunan gandhok di sayap kiri dan kanan rumah. Perbedaan lainnya terdapat pada fungsi senthong. Pada Joglo rakyat, senthong kiwa digunakan sebagai tempat untuk menyimpan benda pusaka ataupun senjata. Senthong tengah difungsikan untuk gudang penyimpanan benih tanaman yang akan ditanam, serta beberapa juga difungsikan sebagai ruang ibadah. Sementara senthong tengen lebih difungsikan sebagai kamar yang digunakan untuk tidur. Susunan pawon dan pekiwan tetap berada paling belakang, karena merupakan bagian kotor dan buang hajat. Ornamen Hias Ornamen di tumpangsari. Sumber Ornamen hias di umpak soko guru. Sumber Ragam hias dipakai pada rumah Joglo Yogyakarta terinspirasi dari tiga komposisi, yaitu flora tumbuhan, fauna hewan dan bentuk dari alam. Ornamen ini biasanya berupa ukiran yang dipahatkan pada kayu sebagai material utama penyusun rumah Joglo. Penempatan masing-masing ukirannya bervariasi, detail penjelasannya adalah sebagai berikut. A. Motif Flora Tumbuhan 1. Corak Lung-lungan Lung dalam bahasa Indonesia berarti sulur tanaman, coraknya biasa dijadikan ornamen ukir pada daun pintu maupun jendela. 2. Motif Soton Soton adalah motif ukir yang menggabungkan komposisi daun dan bunga, serta memanfaatkan bentuk geometris untuk mempermanis. Corak ini biasa dipakai pada blandar, sunduk, tumpang, ataupun pengeret. 3. Motif Wajikan Wajik adalah salah satu makanan tradisional Jawa yang biasanya disajikan dalam potongan belah ketupat. Bentuk ini menjadi inspirasi penciptaan motif wajikan, yang dilengkapi dengan daun dan bunga sebagai pusat perhatian. Motif ini biasa digunakan pada bagian tengah tiang atau sudut pertemuan balok kayu. 4. Motif Nanasan Motif ini mengambil bentuk buah nanas sebagai bentukan utamanya. Beberapa kalangan menyebutnya juga omah tawon karena bentuknya menyerupai rumah tawon yang tergantung. Corak nanasan biasa digunakan pada dada peksi maupun kunci blandar. 5. Motif Tlacapan Tlacap adalah motif segitiga yang berjajar dengan penambahan lung-lungan. Penempatan corak tlacapan adalah di ujung ataupun pangkal balok-balok kerangka. 6. Motif Patron Patron mengambil kata dari patra yang memiliki arti daun. Susunan motifnya ditempatkan untuk menghiasi blandar, dan balok kerangka atap lainnya. 7. Motif Padma Padma adalah bunga Teratai yang merupakan salah satu bunga yang disucikan bagi penganut kepercayaan Budha. Motif ini banyak disisipkan pada umpak bantalan tiang. B. Motif Fauna Hewan 1. Motif Kemamang Filosofi kemamang adalah menelan segala sesuatu, yang berarti diharapkan corak ini dapat menjadi penolak hawa jahat yang akan masuk. Oleh karenanya motif kemamang ditempatkan di regol pintu masuk. 2. Motif Garuda Peksi Garuda peksi dipercaya sebagai suatu lambang penumpas kejahatan. Penggunaan corak ini adalah di regol dan bubungan atap. C. Motif Alam 1. Motif Gunungan Gunungan memegang filosofi tertinggi dalam masyarakat jawa, oleh karenanya bentuk ini diambil sebagai salah satu corak ukir. Motif ini biasa dipakai sebagi ornamen hias di bubungan rumah. 2. Motif Praba Corak ini memberikan ilustrasi tentang sinar sehingga penempatannya berada di tiang bagian bawah pada bangunan utama. 3. Motif Mega Mendhung Mega Mendhung adalah awan berwarna putih dan hitam sebagai cerminan sifat baik dan buruk. Corak ini menjadi ukiran pada jendela maupun pintu. Jadi demikian detail penjelasan mengenai salah satu warisan tangible berupa rumah adat Yogyakarta. Walaupun rumah-rumah tradisional sudah banyak tergerus dengan bangunan modern, melalui pemahaman yang baik ini semoga eksistensinya tetap terjaga, ya. So, di masa depan kita semua masih bisa menikmati keindahan rumah-rumah adat ini secara langsung tidak hanya sekedar foto. Ketikamengunjungi tempat wisata, baik itu pemandangan alam, peninggalan budaya, kebun binatang, air terjun dan lain sebagainya, tentu akan lebih baik jika kita tahu lebih dahulu tentang objek wisata tersebut. kereta ini merupakan rangkaian kereta api yang menawarkan kelas eksekutif SS atau stainless steel. Turangga adalah kereta api jarak Berbicara tentang diversitas budaya Indonesia memang tidak akan cak semau habisnya. Hampir disetiap area nan ada di Indonesia memiliki budaya yang berbeda-cedera. Salah satu provinsi nan congah akan budayanya yaitu Jawa Tengah. Tradisi budaya Jawa Paruh dapat ditemukan di tiap-tiap kabupaten/kota didalamnya. Rata-rata leluri di Jawa Paruh ini tergolong patut istimewa nan sebenarnya harus kita lestarikan sebaiknya warisan budaya terbit nenek moyang kita akan tetap terjaga dan lestari. Diantara adat istiadat budaya Jawa Tengah ini melibatkan banyak orang untuk melakukannya. Nah di kesempatan kali ini, kita akan bahas bersama tradisi budaya Jawa Paruh lengkap berikut dengan gambarnya. Contents 1 19 Tradisi Budaya Jawa Tengah Ideal dengan Lembaga dan Penjelasannya 1. Pagar adat Syawalan 2. Tradisi Sadranan Sadran 3. Tali peranti Selikuran 4. Tradisi Muludan Maulid Nabi SAW 5. Tradisi Grebeg 6. Tradisi Sekaten 7. Tradisi Siraman 8. Padusan 9. Tradisi Mendak Kematian 10. Tradisi Nyewu 1000 11. Adat istiadat Upacara Ruwatan 12. Tradisi Upacara Kenduren 13. Tradisi Kebo–Keboan 14. Adat istiadat Larung Sesaji 15. Leluri Ngapati 16. Tradisi Mitoni 17. Tradisi Dugderan 18. Tali peranti Wetonan Wedalan 19. Tradisi Popokan 19 Tradisi Budaya Jawa Tengah Lengkap dengan Gambar dan Penjelasannya 1. Tradisi Syawalan 2. Tradisi Sadranan Sadran 3. Tradisi Selikuran 4. Tradisi Muludan Maulid Rasul SAW 5. Adat istiadat Grebeg 6. Tradisi Sekaten 7. Pagar adat Siraman 8. Padusan 9. Tali peranti Mendak Kematian 10. Leluri Nyewu 1000 11. Tradisi Upacara Ruwatan 12. Tradisi Upacara Kenduren 13. Pagar adat Kebo–Keboan 14. Tradisi Larung Sesaji 15. Tradisi Ngapati 16. Tradisi Mitoni 17. Tradisi Dugderan 18. Tali peranti Wetonan Wedalan 19. Adat istiadat Popokan Kebudayaan Yogyakarta Lengkap Beserta Gambar Dan Penjelasannya 19 Tradisi Budaya Jawa Tengah Lengkap dengan Gambar dan Penjelasannya Sumber Gambar Tradisi upacara sifat merupakan suatu kegiatan atau ritual yang dilakukan oleh tungkai maupun gerombolan umum. Kejadian ini karena kebiasaan ataupun peradaban tersebut dilakukan secara turun temurun serta bersumber pecah biji-poin nenek moyang mereka. Upacara adat seharusnya diwariskan secara drop temurun terbit generasi ke generasi seyogiannya dapat bertahan dan tidak punah di era modern seperti sekarang ini. Inilah pembahasan lengkap mengenai tradisi budaya Jawa Tengah nan harus dilestarikan dan dijaga bersama-setinggi. 1. Tradisi Syawalan Sendang Rancangan Pagar adat budaya Jawa Tengah yang mula-mula yaitu tali peranti Syawalan. Tradisi Syawalan di Jawa Tengah biasanya diisi dengan berbagai ragam kegiatan oleh warga. Beberapa diantaranya memuati dengan mengadakan takbir bersama di tempat ibadah sama dengan sajadah atau mushola, mengadakan pengajian akbar dan lain sebagainya. Tradisi Syawalan ini sebenarnya sudah berlangsung lama di tengah-perdua publik kabupaten/ii kabupaten di Jawa Tengah. Asal usul tradisi Syawalan di Jawa Tengah ini bermula plong tanggal 8 Syawal. Dimana masyarakat Krapyak berhari raya kembali setelah melakukan puasa 6 masa. Pada kesempatan ini, mereka membuat programa “open house” yaitu suguh atau menerima pelawat baik itu dari luar desa atau ii kabupaten. Hal ini diketahui makanya masyarakat diluar desa Krapyak, sehingga turunan-orang diluar desa Krapyak enggak mengamalkan silaturahmi pada musim-hari antara tanggal 2-7 di bulan Syawal dan menggantinya di tanggal 8 Syawal. Seiring berjalannya periode, hal tersebut semakin berkembang luas di tengah-paruh masyarakat sehingga terjadilah tradisi Syawalan setakat sama dengan sekarang ini. 2. Tradisi Sadranan Sadran Mata air Rajah Selanjutnya adalah tradisi Sadranan. Tradisi Sadranan merupakan leluri yang dilakukan oleh awam Jawa bikin menyambut bulan suci Ramadhan. Sebelum hadirnya agama Islam di Nusantara, tradisi Sadranan ialah tradisi agama Hindu-Budha nan datang dan menyebar lebih lewat di Nusantara. Sejak adanya Walisongo di kapling Jawa, para Sunan camur agama Islam dengan kaidah menggabungkan serta meluruskan tradisi-tradisi tersebut salah satunya tradisi Sadranan. Hal ini bertujuan sebaiknya agama Islam yang dibawa oleh para Sinuhun dapat mudah dituruti oleh masyarakat nan pada saat itu sebagian besar masih memuja jiwa dan beragama Hindu-Budha. Para Sunan mengganti ratib-tahlil didalam tradisi tersebut dengan bacaan Al Qur’an. Meski berbenturan dengan pagar adat Jawa, semata-mata lambat laun mahajana Jawa dapat menerima dan puas akhirnya diamalkan maka itu masyarakat Jawa hingga waktu ini. 3. Tradisi Selikuran Sendang Rajah Tradisi Selikuran merupakan sebuah upacara atau tradisi yang terletak di Jawa Perdua. Malam 21 Ramadhan adalah tahun dimana tradisi ini dilaksanakan. Pada malam tersebut, masyarakat Jawa akan berbuat doa bersama yang dipimpin oleh otak agama setempat. Bagi masyarakat Jawa, Selikur puas rembulan Ramadhan n kepunyaan kebaikan yang sangat spesial dimana tahun tersebut merupakan salah satu waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mendoakan orang-basyar Islam yang sudah lalu meninggal. Sebagian masyarakat Jawa menganggap kebiasaan ini sebagai salah satu wujud rasa kecintaan mereka terhadap agama Selam dan Rasulullah SAW. 4. Tradisi Muludan Maulid Rasul SAW Sumber Rangka Tradisi selanjutnya nan lazimnya dilakukan maka itu mahajana Jawa adalah pagar adat Muludan. Muludan alias maulid rasul dalam adat Jawa mempunyai arti ibarat hari lahirnya nabi Muhammad SAW. Biasanya perayaan tradisi ini dilakukan plong rontok 12 Rabiul Awal. Sememangnya tali peranti maulid nabi Muhammad SAW lain doang berlaku di Jawa Tengah hanya melainkan di berbagai area di Indonesia bahkan acara maulid ini dilakukan di seluruh dunia. 5. Adat istiadat Grebeg Sumber Gambar Saat memasuki bulan Mulud, biasanya cerbak diadakan program di berbagai wilayah di Indonesia, terjadwal pula di kawasan Tunggal dan Yogyakarta. Pelecok satu adat istiadat yang dilakukan di kedua ii kabupaten tersebut adalah tradisi Grebeg. Upacara atau tradisi Grebeg sebenarnya tidak hanya dilakukan puas rembulan Mulud saja, melainkan sekali lagi dilakukan pada sungkap 1 Syawal dan kembali rembulan ke-12. Tujuan diadakannya tradisi ini adalah sebagai ungkapan rasa syukur atas rahmat dan karunia Tuhan Nan Maha Esa. 6. Tradisi Sekaten Sumber Gambar Tradisi Sekaten sepantasnya merupakan sebuah pagar adat nan diadakan kerjakan memperingati lahirnya Rasul Muhammad SAW. Cuma bedanya acara ini diadakan n domestik kurun perian tujuh hari dan galibnya semata-mata dilakukan di kompleks istana. Menurut beberapa sumber, Sekaten bersumber berpokok istilah “Syahadatain“. Istilah ini dikenal misal kalimat tauhid didalam agama Selam. Upacara ini akan diselenggarakan dengan penabuhan dua gamelan dari istana. Kedua gamelan yang dimaksud adalah gamelan Kyai Guntursari dan beleganjur Kyai Gunturmadu. Puncak atau akhir dari tradisi ini adalah leluri grebeg gunungan di tanggal 12 Rabiul Awal ataupun Maulud. 7. Pagar adat Siraman Sumber Gambar Tradisi Siraman yakni riuk suatu leluri budaya Jawa Tengah dimana nomine pengantin harus dimandikan dan pula disucikan dengan air rente 7 rupa. Adat istiadat ini dilakukan dengan cara menguyurkan atau memandikan favorit pengantin baik laki-laki atau perempuan dengan tujuan agar dirinya asli sebelum proses acara pernikahan digelar. Setelah pagar adat Siraman radu, biasanya calon pengantin akan di bawa maka itu kedua orangtuanya atau keluarganya untuk selanjutnya akan di solek bagi programa sungkeman kepada kedua orangtuanya dengan pamrih mempersunting restu mudahmudahan pernikahannya bisa bepergian dengan lampias. 8. Padusan Sumber Gambar Pamrih terbit tradisi Padusan ialah ditunjukkan untuk memegang rembulan suci Ramadhan. Padusan semenjak semenjak kata “adus” yang n domestik bahasa Indonesia berarti mandi dan menyucikan diri. Biasanya tradisi Padusan dilakukan dengan mandi bersama dimana warga setempat akan bersiram serentak lakukan mensucikan diri meliputi sukma dan raga bikin menyandang datangnya bulan suci Ramadhan. Beberapa turunan menyebut bahwa adat istiadat Padusan ialah keseleo satu tali peranti peninggalan Walisongo pada detik beliau menyebarkan agama Selam dengan cara memasangkan budaya Jawa yang ketika itu masih didominasi dengan budaya Hindu-Budha. 9. Tali peranti Mendak Kematian Sumber Tulang beragangan Selanjutnya merupakan tradisi Mendak Kematian. Dalam bahasa Indonesia memiliki arti dan makna yaitu “memperingati kematian pasca- satu tahun seseorang meninggal dunia”. Beberapa orang menyebut bahwa pagar adat ini memiliki hubungan nan silam erat dengan agama Hindu-Budha karena tradisi ini merupakan riuk satu warisan budayanya. Meskipun berasal berpokok tali peranti Hindu-Budha, hanya Walisongo menggunakan adat istiadat ini untuk menaburkan agama Islam. Sebabnya yaitu jika tidak menggunakan tradisi ini laksana riuk satu metode pendakyahan agama Selam maka Walisongo akan mengalami kesulitan lakukan menyebarkan ajaran Islam. Sehingga tradisi ini ialah salah satu strategi maupun inisiatif Walisongo nan lewat baik dalam mencecerkan agama Islam di pulau Jawa. 10. Leluri Nyewu 1000 Sumber Buram Selain tradisi Mendak untuk memperingati kematian seseorang, terwalak juga tradisi Nyewu atau memperingati kematian seseorang pasca- 1000 masa. Tradisi ini masih dilakukan hingga saat ini makanya masyarakat di Jawa Tengah. Tali peranti ini dilakukan dengan prinsip mengerjakan takbir bersama cak bagi orang yang telah meninggal manjapada. Biasanya orang-insan akan mengaji zikir dan surah Yasin secara bertepatan dan diakhiri dengan tahlil yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. 11. Tradisi Upacara Ruwatan Sumur Susuk Ruwatan ialah keseleo satu upacara adat di provinsi Jawa Paruh sebagai wahana lepas ataupun pengudusan manusia pecah kesalahan dan dosa. Salah satu kamil Ruwatan yang paling tersohor yaitu tradisi yang dilakukan oleh publik disekitar Dieng. Anak-anak yang mempunyai surai gimbal biasanya dianggap laksana zuriat Buto Ijo dan anak-anak asuh tersebut akan taajul di ruwat dengan maksud mudah-mudahan selamat dari marabahaya. 12. Tradisi Upacara Kenduren Sumber Gambar Kenduren tersurat salah suatu pagar adat budaya di Jawa Tengah. Sebagian awam lebih mengenal dengan sebutan Slametan. Tradisi ini yakni budaya adat yang pertama sebelum adanya agama Selam di Jawa. Kenduren merupakan kegiatan doa bersama yang biasanya dipimpin oleh tokoh agama atau pasak negeri di daerahnya. Cuma di zaman dahulu, makanan dijadikan sebagai sesaji untuk persembahannya. Setelah adanya budaya Islam, hasilnya tradisi ini mengalami peralihan yang sangat besar. Ki gua garba nan mulanya dijadikan sebagai sesaji buat persembahan kemudian diubah menjadi hidangan untuk dimakan bersama-sekelas setelah acara radu. 13. Pagar adat Kebo–Keboan Sumber Gambar Jawa Tengah memiliki pagar adat budaya yang dipercaya bisa lakukan menolak laskar. Pagar adat ini bernama Kebo–Keboan dan umumnya dilakukan maka itu para petani menjelang masa tanam ataupun periode panen. Dengan berbuat tradisi ini maka harapannya akan diberi fasilitas bagi menanam kendati pokok kayu dapat tumbuh dengan baik serta mendapatkan hasil pengetaman nan luber. Didalam upacara ini biasanya ditandai dengan 30 orang yang berdandan menyerupai kerbau nan nantinya akan di minuman keras keliling kampung. Khalayak-orang ini nantinya akan melanglang menyerupai kerbau yang semenjana mencangkul sawah. 14. Tradisi Larung Sesaji Sumber Gambar Larung sesaji ialah pagar adat nan dilakukan maka dari itu masyarakat Jawa Tengah bagian rantau pesisir Selatan dan Utara. Harapan dilakukannya tradisi ini adalah laksana bentuk rasa syukur kepada Sang Penyusun atas hasil tangkapan ikan yang mereka dapat sejauh melaut. Selain itu, tradisi ini dilakukan dengan pamrih agar kerap diberi kelancaran, keselamatan dan pun hasil nan pas didalam usahanya. Tradisi ini ditandai dengan menghanyutkan berbagai bahan makanan dan hewan sembelihan ke laut. Dilaksanakannya pagar adat ini yaitu sreg tanggal 1 Muharram. 15. Tradisi Ngapati Sumber Gambar Ngapati alias Ngupati yaitu tradisi budaya yang dilakukan buat wanita nan sedang mengandung dimana kehidupan kandungannya telah mencapai 4 wulan. Awam Jawa mengamalkan programa ini karena disaat usia kas dapur sudah lalu sampai ke 4 rembulan akan diberi nyawa oleh Allah SWT yang menjadikan turunan masyarakat Jawa akan mendoakannya. Selain itu lagi sebagai bentuk rasa syukur atas hidayah yang sudah lalu diberikan. Didalam tradisi Ngapati ini, sosok-orang akan sembahyang bersama supaya ketika bayi telah lahir akan menjadi orang yang berguna dan bermanfaat serta dijauhkan dari peristiwa-hal yang dilarang oleh agama. 16. Tradisi Mitoni Sumur Susuk Selain Ngapati, terdapat juga tradisi nan diperuntukkan kerjakan wanita yang medium mengandung, yaitu Mitoni. Upacara Mitoni atau Tingkepan dilakukan saat usia kandungan seorang wanita sudah mencapai 7 rembulan. Salah suatu rangkaian programa nan wajib dilakukan momen Mitoni yaitu bersiram air kembang setaman. Setelah peristiwa itu dilakukan, biasanya para kamitua akan mendoakan kiranya bayi yang dikandungnya selamat setakat proses partus. 17. Tradisi Dugderan Sumber Gambar Dugderan adalah upacara rasam yang rata-rata dilakukan makanya masyarakat di kota Semarang untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Tradisi atau upacara ini diawali dengan pemukulan beduk nan mengecualikan obstulen dug dug dug dan kemudian akan disambut dengan suara minor dentuman meriam nan terdengar kuat hingga masyarakat setempat memberi label Dugderan. Bilamana acara Dugderan radu, kemudian akan digelar pawai keliling kota dimana mahajana seputar akan mencurah ruah mengenakan baju rasam dan juga menyajikan aneka festival tradisional Semarang yang ditunjukkan kerjakan menjabat datangnya bulan suci Ramadhan. 18. Tali peranti Wetonan Wedalan Sumber Gambar Wetonan atau Wedalan dalam bahasa Jawa mempunyai kelebihan “keluar”, tetapi dalam hal ini nan dimaksud keluar adalah lahirnya seseorang. Pemukim setempat galibnya akan melakukan adat istiadat ini dengan harapan agar diberi panjang umur serta dihindarkan dari bermacam rupa macam mara bahaya dimasa depan. Selain itu dengan dilakukannya leluri ini yaitu agar cita-cita bayi si anak dapat dengan mudah tercapai. 19. Adat istiadat Popokan Mata air Kerangka Tali peranti budaya Jawa Tengah yang keladak merupakan Tradisi Popokan. Kegiatan adat istiadat ini dilakukan dengan mandu melempar lumpur yang dilakukan oleh warga Mendira di Semarang. Popokan dilakukan pada saat rembulan Agustus pada hari Jumat Kliwon. Berdasarkan sejarah, tradisi ini dimulai bilamana daerah Beringin didatangi oleh seekor binatang variasi macan dimana binatang tersebut dapat memberikan ancaman terhadap warga di desa tersebut sehingga segala macam peralatan digunakan bakal mengusirnya termasuk dengan melemparkan selut. Sejak detik itu, adat istiadat Popokan ini menjadi radiks nan dilakukan oleh penduduk. Tujuan daripada tradisi ini adalah bagi menghilangkan kejahatan dan juga tolak bala di daerah mereka. Sampai saat ini masyarakat didaerah tersebut masih menjaga dengan baik budaya tersebut. Demikian penjelasan sempurna adapun pagar adat budaya Jawa Perdua. Kita sebagai nasion Indonesia seharusnya bisa menjaga dan melestarikan tradisi budaya yang diwariskan makanya nenek moyang kita. Semoga berfaedah.
Masingmasing dari rumah adat tersebut memiliki struktur bangunan dan arsitektur khas budaya setempat. 35 Gambar Rumah Adat Indonesia Lengkap dengan Penjelasannya. Indonesia dikenal sebagai bangsa dengan corak budaya yang sangat beraneka ragam. 34 Rumah Adat Dan Asalnya Beserta Gambar Penjelasan Lengkap Di 2021 Rumah Arsitektur Home Fashion .
Lambang atau logo Daerah Istimewa Yogyakarta DIY sering disebut dengan istilah golong gilik. Lambang berbentuk bulat golong silinder gilig. Berdasar Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta DIY Nomor 3 Tahun 1969, ditetapkan lambang Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa YogyakartaDownload logo Provinsi Yogyakarta PNG dengan resolusi gambar yang tinggi dapat dengan mudah anda lakukan dengan cara klik link download di bawah ini. Lambang atau logo provinsi Yogyakarta juga tersedia dalam berbagai format lainnya seperti logo DIY format JPG, AI, EPS, serta lambang Yogyakarta format DOWNLOAD Lambang Yogyakarta JPG PNG AI EPS CDRArti Lambang YogyakartaBentuk dasar lambang yogyakarta adalah bulat, Ukuran lambang pada garis tengah lingkaran adalah 30 sedangkan ukuran bagian-bagian lain yang menonjol adalah emas lima sudut melambangkan Pancasila dan Ketuhanan Yang Maha sakaguru yang tegak lurus dengan sepasang sayap mengembang menyimbolkan perikemanusiaan, sekaligus jiwa yang teguh serta adil dalam sikap terhadap merah dikelilingi lingkaran putih melambangkan kebangsaan. Umpak dengan tatahan bunga teratai menyimbolkan kerakyatan. Adapun padi dan kapas melambangkan keadilan struktural UUD 1945, proklamasi kemerdekaan, serta masyarakat adil makmur dilukiskan dengan gambar bunga kapas berjumlah 17 kuntum, daun kapas berjumlah 8, dan butir padi berjumlah dan tata kehidupan gotong royong atau semangat golong gilig dilukiskan dalam bentuk bulatan Tugu Yogya yang disebut golong dan tugu berbentuk silinder yang disebut keagamaan, nilai pendidikan, dan nilai kebudayaan dilukiskan dalam bintang emas persegi lima dan bunga melati yang mencapai bintang dengan daun kelopak 3 lembar. Gambar tersebut melambangkan pendidikan dan kebudayaan yang selalu didasarkan atas ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha merah dan putih dengan gambar tugu tegak lurus menggambarkan semangat perjuangan dan pembangunan dilukiskan dengan gambar tatahan miring pada sakaguru, tatahan spesifik Yogyakarta berarti menghias, karena membangun identik dengan DIY dilukiskan dalam gambar sayap di kanan kiri bulu sayap pada bagian luar adalah 9 helai, sedangkan pada bagian dalam 8 helai. Maknanya, DIY terdiri atas Kesultanan Yogyakarta di bawah kekuasaan Sri Sultan HB IX dan Paku Alaman di bawah kekuasaan Sri Paku Alam alam dilukiskan dengan warna hijau tua dan hijau muda dan lukisan bermotif bunga teratai. Gambar tersebut mencerminkan kesuburan alam hijau dan kesuburan jiwa bunga teratai.Candrasengkala, Rasa Suka Ngesti Praja berarti tahun 17786, Suryasengkala. Yogyakarta Trus Mandiri berarti tahun 1945. Bila dirangkai menjadi "Rasa Suka Ngesti Praja Yogyakarta Trus Mandiri" yang berarti “Dengan rasa gembira membangun DIY yang baik dan selamat terus berdiri tegak.”Warna kuning emas dan kuning tua, berarti keluhuran, keagungan, dan kemasyhuran. Warna hijau tua dan hijau muda berarti kesuburan dan harapan. Merah berarti berani, putih berarti suci, dan hitam berarti Daerah Istimewa YogyakartaSelain lambang atau logo Yogyakarta, Provinsi ini juga memiliki maskot yang menjadi identitas Daerah Istimewa Yogyakarta. Maskot daerah tersebut terdiri dari flora dan fauna yang menjadi identitas kota Yogyakarta. Maskot flora Yogyakarta adalah pohon Kelapa Gading Cocos Nuciferal Sedangkan maskot fauna Yogyakarta adalah Burung Tekukur Streptoplia Chinensis Tigrina. Sejarah Pemerintahan YogyakartaDengan Perjanjian Giyanti 13 Februari 1775, Mataram pecah menjadi dua, yaitu Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Di Kesultanan Yogyakarta Pangeran Mangkubumi diangkat menjadi Sri Sultan Hamengkubuwono I. Pangeran Mangkubumi lalu membabat Alas Hutan Bering di antara Sungai Winongo dan Sungai Code, ia membangun istana di atasnya, yang selesai pada 7 Oktober kekuasaan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat terdiri dari negaragung yang meliputi wilayah Bagelen, Bumigede, Kedu, Mataram Yogyakarta, Pojong, Sukowati, dan wilayah mancanegara yang meliputi Bojonegoro, Cirebon, Grobogan, Kalangbret, Kartosuro, Kuwu, Madiun, Magetan, Mojokerto, Ngawen, Pacitan separuh, Sela, Tulungagung, dan Ngayogyakarta diperintah oleh anak keturunan Mangkubumi sampai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945 dan bergabung ke dalam wilayah Republik Indonesia. Bersama Paku Alaman, Ngayogyakarta membentuk Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai gubernur dan Sri Paku Alam VIII sebagai proklamasi kemerdekaan, Sri Sultan HB IX dan Paku Alam VIll, pada tanggal 18 Agustus 1945, mengirim ucapan selamat kepada Ir. Soekarno dan Moh. Hatta sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia. Presiden Soekarno pada 19 Agustus 1945 segera mengeluarkan Piagam Kedudukan Sri Sultan HB IX dan Paku Alam VIII yang isinya adalah sebagai Kedudukan Sultan Hamengkubuwono IX"Kami Presiden RI menetapkan ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengkubuwono Senopati ing Alogo Abdulrahman Sayidin Panotogomo Kalifatullah ingkang Kaping Songo ing Ngayogyakarta Hadiningrat pada kedudukannya dengan kepercayaan bahwa Sri Paduka Kanjeng Sultan akan menyerahkan pikiran, tenaga, jiwa, dan raga demi keselamatan daerah Yogyakarta sebagai bagian RI".Piagam Kedudukan Paku Alam VIII"Kami Presiden RI menetapkan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam ingkang Kaping VIII pada kedudukannya dengan kepercayaan bahwa Sri Paduka Kanjeng Gusti akan menyerahkan pikiran, tenaga, jiwa dan raga demi keselamatan daerah Paku Alaman sebagai bagian RI".Dari piagam tersebut, Sri Sultan HB IX dan Paku Alam VIII mengambil sikap mendukung proses integrasi. Mereka mengeluarkan pernyataan sikap untuk berdiri di belakang Presiden tahun 1948 sudah ada upaya memaknai status keistimewaan dengan dikeluarkannya UU Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pemerintahan Daerah. Pasal khusus tentang Yogyakarta yaitu pasal 18 ayat 5 dan 6 berbunyi sebagai 18 ayat 5 Kepala Daerah Istimewa diangkat oleh presiden dari keturunan keluarga di daerah itu di zaman sebelum RI dan masih menguasai daerahnya, dengan syarat-syarat kecakapan, kejujuran, dan kesetiaan, dan dengan mengingat adat-istiadat daerah 18 ayat 6 untuk Daerah Istimewa dapat diangkat seorang wakil kepala daerah oleh presiden dengan mengingat syarat-syarat tersebut dalam ayat 5 ini. Wakil Kepala Daerah Istimewa adalah anggota dewan Pemerintah jugaKesenian Tradisional Yogyakarta Lengkap, Gambar dan PenjelasannyaDemikian artikel tentang "Lambang Daerah Istimewa Yogyakarta dan Artinya Terlengkap" yang telah kami rangkum dari berbagai sumber. Baca juga ulasan tentang Provinsi Yogyakarta menarik lainnya hanya di situs
MuseumSonobudoyo pada bulan Januari 2001 bergabung dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi DIY. Koleksi Museum Sonobudoyo. Dalam sejarah museum Sonobudoyo, pendiriannya ditujukan untuk mengumpulkan peninggalan budaya dan melestarikannya. Jumlah koleksi dari museum adalah sekitar 430.000 buah dan selalu bertambah setiap tahunnya.
Yogyakarta atau "Jogja" merupakan sebuah kota kecil di sebelah selatan Pulau Jawa yang berpredikat kota pelajar. Selain menyandang predikat kota pelajar, Yogyakarta juga pantas disebut sebagai kota budaya karena masyarakat di kota ini masih sangat menjunjung tinggi adat dan budaya yang mereka miliki. Berbagai ragam kesenian tradisional masih terus digelar dan dilestarikan oleh seniman-seniman di Provinsi Yogyakarta ini. Kesenian khas yogyakarta tidak hanya ditampilkan pada hari-hari tertentu saja. Namun, masih banyak kesenian-kesenian khas yang ditampilkan oleh masyarakat Yogyakarta untuk memeriahkan berbagai upacara adat, seperti pernikahan, khitanan, kelahiran, dan upacara adat lainnya. Kesenian Tradisional Yogyakarta Berikut ini beragam kesenian khas yogyakarta yang dikenal oleh masyarakat Yogyakarta serta penjelasannya. 1. Wayang Kulit Wayang kulit merupakan kesenian tradisional yang sudah berusia ratusan tahun. Dalam pertunjukan wayang kulit, penonton dapat menyaksikan dari arah depan atau dari arah belakang. Dari belakang, penonton akan melihat bayang-bayang wayang dari dalam kelir tirai kain putih untuk menangkap bayang-bayang wayang kulit. Bayang-bayang inilah yang mungkin menjadi cikal bakal lahirnya istilah wayang yang berarti bayang-bayang. Selain itu bayang-bayang ini ditafsirkan bahwa cerita dalam pewayangan mencerminkan bayang-bayang kehidupan manusia di dunia. Wayang kulit gaya Yogyakarta mempunyai tampilan fisik yang berbeda dengan wayang dari daerah lain. Perbedaannya terletak pada beberapa hal; wayang gaya Yogyakarta terkesan dinamis atau terlihat bergerak, ditandai dengan tampilan posisi kaki yang melangkah lebar seperti orang yang sedang melangkah; tampilan bentuk luarnya lebih tambun dan tidak terkesan kurus; tangannya sangat panjang hingga menyentuh kaki; serta tatahannya inten-intenan, terutama pada pecahan uncal kencana, sumping, turido, dan bagian busana lainnya. Dilihat dari sunggingannya lukisan/ perhiasan yang diwarnai dengan cat, digunakan sunggingan tlacapan atau sunggingan sorotan, yaitu unsur sungging yang berbentuk segitiga terbalik yang lancip-lcncip seperti bentuk tumpal pada motif kain batik; dan di bagian siten-siten atau lemahan, yaitu bagian di antara kaki depan dan kaki belakang, umumnya diberi warna merah. Untuk mengetahui wayang gaya Yogyakarta, ditentukan dari jenis mata wayang. Bentuk hidung wayang, mulut wayang, bentuk mahkota, jenis pemakaian kain dodot dan posisi kaki, serta atribut lainnya merupakan beberapa atribut yang perlu diperhatikan untuk mengenal wayang Yogya. 2. Wayang Wong Sesuai dengan namanya, kesenian ini menggunakan wong orang sebagai pemainnya. Wayang wong berbeda dengan wayang kulit yang menggunakan wayang dari kulit sebagai alat peraganya. Wayang wong adalah suatu seni drama yang menggabungkan antara seni dialog dan seni tembang. Wayang wong pertama kali diciptakan oleh Mangkunegara I yang berkuasa dari tahun 1757 sampai tahun 1795. Pemain-pemain wayang wong adalah para abdi dalem keraton sendiri. Pada masa pemerintahan Mangkunegara V, pada tahun 1881, pagelaran wayang wong semakin hidup dan dianggap sebagai hiburan. Selanjutnya wayang wong berkembang menjadi wayang wong gaya Surakarta dan wayang wong gaya Yogyakarta. Wayang wong gaya Yogyakarta pertama kali muncul pada pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwo no VII yang bertakhta dari tahun 1878 sampai tahun 1921. Dahulu kala, wayang wong hanya dipentaskan di lingkungan keraton, yaitu di Baluwerti. Para pemainnya adalah pangeran dan keluarga keraton sen- diri. Kesenian ini merupakan ajang ekspresi kehalusan budi, keterampilan tari, dan bela diri. Semua pemainnya laki-laki. Bahkan, tokoh wanita pun dimainkan oleh laki-laki. Perbedaan antara wayang wong gaya Surakarta dan Yogyakarta terletak pada penggunaan kethok dan kecrek serta dalang untuk suluk nyanyian atau tembang dalang yang dilakukan ketika akan memulai adegan di pertunjukan wayang dan menceritakan adegan yang silih berganti untuk gaya Surakarta. Adapun gaya Yogyakarta hanya menggunakan keprak bunyi-bunyian pengiring gerakan serta pembaca kandha yang bukan merupakan dalang. Pada gaya Surakarta, cengkok atau lagu percakapan nampak lembut merayu, sedangkan gaya Yogyakarta terlihat datar dan melankolik. Dalam gaya Surakarta, tarian terlihat luwes sedangkan dalam gaya Yogyakarta tarian tampak lebih gagah, trengginas lincah, dan memikat. Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono V 1822-1855 dipergelarkan tidak kurang lima cerita, yakni Pragolomurti, Petruk Dadi Ratu, Rabinipun Angkawijaya, Joyosemadi, dan Pregiwo-Pregiwati. Pada periode pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII 1877-1921 hanya dua kali pementasan dengan lakon Sri Suwela dan Pregiwo-Pregiwati. Wayang wong mencapai popularitasnya pada saat Sri Sultan HB VIII berkuasa. Pada masa itu digiatkan pembaruan dan penyempurnaan besar-besaran pada tata busana, teknik, ragam gerak tari, dan kelengkapan pentas. Proyek ini melibatkan empu tari KRT Joyodipuro, KRT Wiroguno, GPH Tejokusumo, KRT Wironegoro, BPH Suryodiningrat, dan KRT Purboningrat. Selama periode 1921- 1939 ini tidak kurang 20 lakon wayang wong dipentaskan. 3. Ketoprak Surakarta tahun 1898. Wabah pes merajalela dan meminta banyak korban jiwa. Banyak orang yang dirawat dibarak-barak darurat. Untuk menghibur rakyat yang sedang menderita, KRT Wreksadiningrat segera mengerahkan para abdi untuk merawat dan mempersembahkan hiburan kesenian. Mereka membawa lesung untuk ditabuh disertai dengan tarian dan nyanyian. Beberapa seniman mengembangkan ketoprak lesung tersebut dengan menambah instrumen musik, seperti siter alat musik petik yang berdawai, bentuknya menyerupai kecapi Sunda, gender gamelan Jawa yang dibuat dari bilah bilah logam berjumlah empat belas dengan penggema dari bambu, kendang dan genjring rebana kecil yang dilengkapi dengan kepingan logam bundar pada bingkainya. Mereka mulai manggung di luar tembok keraton dengan memakaı kostum ala Turki atau Arab dan mengambil cerita rakyat Jawa. Dialognya dinyanyikan sambil menari. Ketoprak lesung dari Solo untuk pertama kalinya dipentaskan di Yogyakarta pada tahun 1900, yaitu sebagai hiburan dalam rangka memeriahkan perkawinan agung KGPAA Paku Alam VII dengan RA Puwoso, putri Sunan Pakubuwono X. Sejak saat itu ketoprak berkembang di Yogyakarta. 4. Dagelan Mataram Dagelan Mataram adalah pertunjukan humor atau lawak yang dialognya menggunakan bahasa Jawa. Kesenian ini berkembang di wilayah Yogyakarta. Jenis lawakan ini populer di Yogyakarta sekitar tahun 1950-an. Cerita yang dipentaskan dalam dagelan Mataram biasanya cerita sederhana dan dekat dengan kehidupan masyarakat desa. Misalnya, konflik rumah tangga yang kemudian dapat diselesaikan secara adil. Intrik-intrik dalam konflik itulah yang dibumbui dengan dagelan segar. Makna dibalik dagelan sederhana itulah yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Melalui dagelan, kritik atas sesuatu yang melenceng dapat diungkapkan tanpa menyinggung perasaan seseorang. Di tahun 70-an dikenal pemain dagelan Mataram yang cukup populer, yaitu Basıyo. Beberapa kaset dagelannya beredar di masyarakat, seperti Besanan, Dadung Kepuntir, Degan Wasiat, Gatutkaca Gandrung, Kapusan, Maling Kontrang-Kantring, mBecak, mBlantik Kecelik, Midang, Ngedan, Pangkur Jenggleng, dan Gandrung. Bersama sang istri, Darsono, dan Arjo, Basiyo mengemas dagelan Mataram menjadi segar dan kocak. Di era 1990-an, dagelan Mataram mulai menghilang dari masyarakat. Kesenian jenaka ini tergeser oleh jenis kesenian lain yang lebih baru semisal campursari dan dangdutan. 5. Wayang Beber Pertunjukan wayang beber dilakukan dengan pembacaan cerita atau gambar yang melukiskan kejadian atau adegan yang terlukis pada kertas. Pada saat ini, pertunjukan wayang beber dapat dikatakan sudah punah karena lukisan mengenai wayang tersebut tidak dibuat lagi. Wayang beber termasuk wayang yang paling tua usianya. Ia berasal dari masa akhir zaman Hindu di Jawa. Pada mulanya, wayang beber berkisah tentang cerita Mahabharata kemudian beralih ke cerita Panji dari Kerajaan Jenggala pada abad XI dan mencapai jayanya pada zaman Majapahit sekitar abad XIV-XV. Ketenaran wayang ini memudar sejak zaman Mataram. Salah satu wayang beber yang tersisa ditemukan di Desa Gelaran, Bejiharjo, Karangmojo, Gunung Kidul, yang terletak 47 km sebelah tenggara kota Yogyakarta. Wayang beber tersebut dinamai wayang beber Kyai Remeng, milik Ki Sapar Kromosentono yang merupakan ahli waris ketujuh. Menurut cerita rakyat di sana, wayang beber tersebut dibuat dalam rangka peringatan tujuh bulan dalam kandungan Sultan Hadiwijaya 1546-1586 yang terkenal dengan sebutan Jaka Tingkir. Di Jawa dinamakan mitoni. Setelah Jaka Tingkir dinobatkan sebagai raja Pajang, Kyai Remeng dijadikan pusaka kerajaan dan kemudian diwariskan ke Mas Ngabehi Saloring Pasar yang bergelar Panembahan Senopati, putra angkatnya. Di kemudian hari Kyai Remeng menjadi pusaka Keraton Mataram. Hingga saat ini, wayang beber Kyai Remeng dianggap sebagai benda pusaka oleh keluarga Ki Sapar Kromosentono. Setiap malam Jumat, benda keramat ini diselamati dengan sesaji. 6. Tayub Tayub berasal dari kata mataya yang berarti tarian dan guyub yang berarti rukun. Jika digabungkan berarti tarian kerukunan atau tarian persahabatan. Di Yogyakarta juga ada semacam tayub yang disebut beksan pangeranan. Seorang penari bisa ditemani seorang teledek atau beberapa teledek secara bersamaan. Saat gamelan berhenti, baru minuman disajikan. DahuIukala, tarian tayub hanya dilakukan oleh kerabat bangsawan yang memang telah mahir menari. Disebutkan dalam Serat Centhini, pada awal abad XIX putra Sunan Giri III melakukan pengembaraan ke seantero Jawa. Waktu tiba di Desa Kepleng, ia menyaksikan penduduk gemar bermain tabuh-tabuhan dan dilanjutkan dengan tayuban dengan perempuan bernama Gendra. Dalam membawakan tarian, Gendra begitu memukau penonton sehingga merangsang mereka untuk menari bersamanya. Akibat mereka saling berebut untuk bisa menari bersama Gendra, tidak jarang terjadi ketegangan, percekcokan, dan bahkan perkelahian. Gendra memang berarti si pembuat onar. Tayub yang berkaitan dengan ritus kesuburan masih ada di daerah Semin, Gunung Kidul. Tayub diadakan dalam rangka perayaan datangnya Dewi Sri, dewi kesuburan. Awalnya teledek menari dengan diiringi gending Sri Boyong, agar Dewi Sri hadir di antara mereka untuk melindungi petani dari segala hama tanaman. Kemudian dilanjutkan dengan gending Sri Katon untuk menghormati Dewi Sri yang sudah hadir di antara mereka. Setelah gending Rujak Jeruk, maka para penonton bersuka cita menari bersama teledek.

Petabali lengkap. Berikut kondisi geografis pulau bali berdasarkan peta 1. Peta bali lengkap dengan gambar dan penjelasannya. Secara geografi, provinsi bali terletak di salah satu kepulauan sunda kecil. Peta bali dengan lokasi geografinya. Ya, pulau bali menjadi salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan terutama untuk

Pakaian Adat Yogyakarta – Pakaian adat yogyakarta lengkap beserta gambar dan penjelasannya filosofinya – Hallo gaes untuk kamu yang sudah pernah tinggal di jogja. tentu sudah mengetahui bahwa jogja adalah kota yang kental dengan budaya nya. Selain terkenal sebagai kota pelajar dan juga kota dengan sejuta tempat wisata yang bisa di kunjungi. Jogja juga sangat terkenal dengan wisata budaya dan kebudayaan yang tidak pernah lewat oleh jaman. Jogja sendiri adalah sebuah daerah istimewa yang memiliki sistem pemerintahan istimewa. Pemerintahan di Yogya masih menggunakan kesultanan dan masih bertahan hingga sekarang. Kebudayaan yang kental di jogja bisa berupa tatakrama, keramahan, musik, pawai, dan juga baju selalu kental dengan nuansa jawa Yogyakarta yang sangat khas. Nah yang menrik adalah tentang pakaian adat yogyakarta yang bisa kita pelajari dan kita ketahui tanpa harus berkunjung ke sana. Karena pada artikel kali ini kami akan membahas tentang pakaian adat dari jogja yang bisa kamu ketahui sebagai bahan pembelajaran dan memperluas wawasan kamu tentang kebudayaan dari jogja. Minimal dari baju nya saja terlebih dahulu. Berikut adalah baju adat dari jogja yang wajib banget untuk kamu ketahui 1 Pakaian adat yogyakarta Busana Surjan Pakaian adat ini merupakan busana yang biasa di gunakan sebagai baju. Biasa di pakai oleh pria yogyakarta dan bagian bawahnya bisa menggunakan kain atau baisa di sebut dengan jari. Ketika menggunakan pakaian adat jogja ini, kita bisa menggunakan blankon sebagai bagian penutup kepala. Nama lain dari pakaian adat busana surjan ini adalah pakaian takwa Filosofi dari pakaian ini bisa di artikaln dari setiap bagian, seperti pada bagian kancing terdapat 6 yang melambangkan rukun iman. Dan 2 buah kancing yang ada di dada kiri itu menyimbolkan kalimat syahadat. Sehingga makna filosofi utama dari pakaian adat ini adalah mitos bornean yang dimana siapapun yang menggunakan pakaian adat ini secara lengkap maka akan mendapatkan ke stabilan perasaan dalam kehidupannya 2 Kebaya Yogyakarta Untuk pakaian adat kebaya yogyakarta adalah pakaian adat yang khusus di gunakan untuk wanita. Kebaya asal yogyakarta sangat memiliki ciri khas yang berbeda. Mulai dari corak, dan juga bahan yang berbeda dengan kebaya asal daerah lainnya. Karena bahan yang digunakan untuk mermbuahkebaya ini tidak di buat dari kain yang asal – asalan. Selain itu wanita juga harus menggunakan tatanan rambut yang khas dengan konde nya. Busana kebaya Jogja ini juga bisa menggambarkan tentang kehalusan dan kelemah lembutan yang harus di miliki oleh wanita yogyakarta. 3 Busana Kencongan Pakaian adat yang ke tiga adalah kencongan yang biasa digunakan ketika acara atau festival di yogyakarta. Busana ini memang di buat untuk anak laki – laki yang memang di sesuaikan dengan busana surjan yang biasa digunakan oleh orang dewasa. Model busana kencongan ini juga di lengkapi dengan beberapa aksesoris tambahan seperti ikat pinggang, blankong, dan juga selendang. 4 Sabukwala padintenan Busana adat yogyakarta yang ke empat adalah sabukwala padintenan yang bisa digunakan oleh anak – anak perempuan. Ini merupakan sebuah busana kebaya yang menggunakan kain batik di bagian bawahnya. Busana ini juga memiliki tambahan aksesosris seperti selendang, sabuk, dan juga menggunakan tusuk konde di bagian kepala. Biasanya pakaian adat ini di gunakan dalam acara – acara seperti festival, kelulusan, dan juga beberapa acara daerah lainnya 5 Busana Ageng Busana ageng merupakan pakaian adat yang hanya bisa digunakan secara resmi oleh para pejabat keraton. Busana ageng ini berbentuk sebuah perangkat adat yang berupa jas laken, dengan kerah baju berdiri. Sebagai tambahan untuk busana agung ini adalah sutera yang berwarna biru tua dengan panjang hingga mencapai bagian paha. Pada bagian bawah bisa menggunakan celana kain berwarna hitam. Dan juga topi dengan warna biru tua sepanjang 8 cm. Baca juga pakaian adat banten Itu dia pakaian adat khas yogyakarta yang bisa membuat kamu menjadi lebih paham tentang budaya yang ada di yogyakarta. Untuk mengetahui pakaian adat lainnya kamu bisa melihat di berandan tentang pakaian adat indonesia lengkap dengan penjelasan dan gambarnya Keyword Pakaian Adat Yogyakarta Originally posted 2021-01-10 214318.

Faktorfaktornya adalah sebagai berikut: Perbedaan budaya, bahasa, agama, suku, ras dan lain-lain. (lihat di: contoh asimilasi) Sifat sosial manusia yang mendorong antar individu manusia saling berinteraksi dan bergaul. Kecenderungan manusia untuk selalu berubah, sehingga mudah menerima hal baru dari budaya lain.
Pakaian Adat DI Yogyakarta Lengkap, Gambar dan Penjelasannya - Di Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat lima macam corak tata rias pengantin yang disebut dengan gaya Yogyakarta. Berbagai corak pakaian pengantin ini dahulunya digunakan di lingkungan Keraton Yogyakarta. Lama-kelamaan masyarakat menyukai dan menggunakannya sebagai pakaian adat pengantin Yogyakarta. Pakaian Adat Yogyakarta Corak Kasatrian Corak kasatrian dahulunya merupakan pakaian adat yang dikenakan putra-putri sultan pada perjamuan ramah tamah dengan para tamu dan kerabat keraton. Sekarang jenis pakain ini dipakai dalam upacara adat midodareni dan upacara panggih. Destar pengantin pria untuk corak kesatrian adalah model ngobis, seperti daun kubis yang lebar. Nama ngobis diperuntukkan bagi sinthingan, yaitu bagian bawah destar berupa sayap di kiri kanan mondholan. Mondholan berasal dari kata mondhol yang berarti bergantung di suatu tempat. Bentuknya seperti telur itik yang digantung. Mondholan inilah yang membedakan destar gaya Surakarta yang tidak menggunakan mondholan tetapi rata atau trepes. Untuk bros digunakan motif matahari, yang melambangkan kehidupan yang selalu bersinar dan kekal. Ada juga bros yang bermotif bunga cengkih yang melambangkan keuletan dalam menghadapi hidup. Pakaian adat Yogyakarta yang dikenakan pengantin pria berupa surjan baju jas laki-laki khas Jawa yang berkerah tegak dan berlengan panjang yang terbuat dari kain sutra, dilengkapi dengan karset, rantai jam, dan bros. Surjan bermotif bunga kembang batu atau polos. Keris yang dipakai bercorak branggah atau ladrangan dengan oncen-oncen rangkaian bunga usus-ususan dari bunga melati. Sabuk atau lontong yang dipakai pengantin pria memiliki lebar 13 cm dan dibuat dari kain tenunan khusus, pada bagian depan dilapisi kain sutra. Pengantin pria memakai kain batik sama dengan pengantin putri. Misalnya bermotif sidoasih, sidoluhur, sidomukti, parangkusumo, semen rama, truntun, dan udan riris. Sandal yang digunakan pengantin pria adalah selop yang bagian depannya tertutup. Rambut pengantin wanita dirias dengan model gelung tekuk pelik dengan hiasan berupa satu buah cunduk menthul tusuk konde besar menghadap ke belakang. Sisir gunungan jebehan sri taman, ceplok, dan dua buah usus-ususan bunga melati dipasang vertikal melingkar mengikuti bentuk sanggul, ditambah pelik kerabu subang kecil berjumlah sepuluh buah. Kebaya pendek yang dikenakan pengantin wanita berbahan sutra kembang dengan warna biru tua, hijau tua, merah tua, atau hitam. baju tidak memakai penutup dada atau kuthu baru. Motif kain yang dipakai sama dengan pengantin laki-laki dan tidak dibordir atau diprada. Ditambahkan pula perhiasan seperti giwang, kalung, gelang, bros tiga buah, dan selop biasa tanpa bordir warna hitam. Untuk gaya Yogyakarta, lipatan kain untuk wiru dan garis wiru harus kelihatan dan menghadap ke kanan untuk membedakan dengan motif surakarta yang garis wirunya tidak kelihatan sered. Sumber Various sources from Search Google Image Indonesia. Pakaian Adat Yogyakarta Corak Kesatrian Ageng Pakaian adat corak kesatrian ageng digunakan di lingkungan keraton untuk acara perjamuan seperti saat acara malam selikuran. Pengantin pria menggunakan kuluk kanigara kopiah kebesaran yang tinggi dan kaku hitam berbentuk bulat dengan pucuk mengecil. Busana tersebut dibuat menggunakan bahan beludru hitam, bergaris kuning tua dengan pelisir pita dari benang berwarna keemasan, sisir gunungan, mentul sebuah, dan rambut ukel terlepas Kuluk kanigaran dahulu merupakan busana keprabonan untuk para tumenggung dan adipati pada upacara resmi. Kuluk yang digunakan para tumenggung dan adipati pada upacara resmi biasa disebut kuluk tedak loji, sebab dulu jenis penutup kepala seperti ini dipakai oleh para bupati ke kantor gubernur Belanda di loji gedung besar gubernuran. Di wilayah pesisir, kuluk ini disebut kuluk jangan menir. kanigaran berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti bunga metahari. Demikian juga untuk pakaian adat pengantin perempuan Yogyakarta juga sama dengan corak kesatrian. Pakaian Adat Yogyakarta Corak Yogya Putri Pakaian adat corak Yogya Putri disebut juga busana agustusan. Pakaian ini dipakai para sultan yang akan menghadap Gubernur Jenderal Belanda waktu itu yang diadakan setiap bulan Agustus. Tata rias rambut sama dengan kasatrian ageng, yaitu memakai kuluk kanigaran hitam berpelisir benang keemasan dipasang agak miring ke depan, sisir, mentul sebuah, ukel, sumping berbentuk daun, dan oncen sri taman atau bunga surengpati. Sumping yang dipasang di telinga melambangkan keagungan dan kebesaran. Adapun bunga sritaman digunakan untuk memberikan keseimbangan bentuk sehingga kuluk kelihatan tidak terlalu tinggi. Bagi pengantin wanita, rambutnya dirias dengan model sanggul gelung tekuk pelik. Tata rias rambut wanita disebut model sanggul gelung tekuk pelik karena pengantin wanita menggunakan hiasan dari pelik atau plastik putih berbentuk bintang sebanyak 10 buah. Hiasan tersebut ditambah dengan cunduk mentul besar sebuah, sisir gunungan, jebehan sritaman, dan ceplok bulat berwarna untuk hiasan. Kebaya yang dipakai pengantin wanita bersulam benang emas blenggen panjang dari beludru berwarna merah, biru tua, hijau tua, disesuaikan dengan pengantin pria. Kain yang dipakai bermotif sidoasih, sidomukti, semen rama, udan riris, parangkusumo, atau nitik. Kain pradan pengantin wanita sama dengan pengantin pria. Kebaya seperti ini menggambarkan putri raja yang sedang berdandan dengan kesan keagungan. Pakaian Adat Yogyakarta Corak paes Ageng Jangan Menir Pakaian adat Yoyakarta corak paes ageng ini dahulu dipakai untuk boyongan dari keraton ke rumah pengantin pria. Pakaian ini sekarang digunakan untuk acara panggih, mempertemukan pengantin. Tata rias rambut terdiri dari kuluk kanigaran, sisir gunungan, sebuah mentul, sumping keemasan dengan oncen bunga sritaman, dan konde atau ukel keling. Dalam corak ini, pengantin pria mengenakan kain cinde. Lipatan kain wiru memiliki lebar tiga jari yang dikencangkan dengan stagen cinde. Baju blenggen yang dipakai berwarna gelap dengan bordir. Dipasang bros di kanan dan kiri baju, rantai jam, dan kelat baju dengan kepala naga menghadap ke luar dikenakan di kanan kiri bahu sebagai tolak bala. Selain itu, disematkan gelang kana, rantai, kalung susun tiga, karset, buntal, keris branggah dengan oncen bunga sritaman, dan selop. Pada tata rias ini, alis pengantin wanita berbentuk menyerupai tanduk rusa yang disebut corak alis menjangan ranggah. Gelung bokor mengkurep yang terajut dari untaian bunga melati disebut pager timun dengan ekor gajah ngoling. Dipasangi bros, jebebehan sritaman, ceplok di tengah sanggul, dan cunduk mentul berjumlah lima buah menghadap ke belakang. Baju blenggen pengantin wanita berupa beludru panjang berwarna gelap. Pengantin wanita boleh merah sedangkan pria tidak boleh. Corak paes ageng jangan menir cocok untuk pengantin yang sedang menghadapi ancaman gaib dari pihak yang pernah terlibat kasus percintaan dengan salah satu mempelai. Pada waktu iring-iringan, pengantin pria dan wanita diapit kiri dan kanan sebagai pelindung. Sumber Various sources from Search Google Image Indonesia. Pakaian Adat DI Yogyakarta Corak Paes Ageng Corak Kebesaran Pakaian adat Yogyakarta corak paes ageng corak kebesaran sering disebut sebagai corak basahan. Corak ini dulu dipakai untuk perjamuan pengantin waktu upacara penggih di keraton. Jika yang punya hajat seorang pangeran maka kuluknya berwarna biru dengan puting bunga cengkih, tetapi bila yang melangsungkan perkawinan seorang bupati maka kuluknya berwarna putih. Pakaian adat Yogyakarta untuk pengantin pria memakai kuluk warna biru polos dengan bahan plastik agak transparan, sisir, satu mentul, dan gelung dengan model ekor kadal menek. Pengantin pria tidak memakai baju dan untuk kain bawahnya dipakai kampuh bermotif sidomukti. Di telinga disematkan sumping dan oncen bunga. Pada waktu berjalan dengan pengantin putri, kampuh dipegang dengan tangan kiri menggambarkan sikap seorang pangeran. Perhiasan yang dipakai berupa subang royok, kelat bahu, gelang kana, cincin, dan kalung susun tiga. Perhiasan seperti ini disebut raja kaputren. Adapun alas kaki yang dikenakan adalah selop bordir. Tata rias rambut dan wajah pengantin wanita sama dengan corak paes ageng jangan menir. Dalam tata busananya, pengantin wanita tidak berbaju tetapi memakai dodot sebagai penutup dada. Kain bagian bawah memakai kampuh dan hiasan berupa kelat bahu di lengan kiri dan kanan, serta jebahan sritaman warna kuning, hijau, dan merah terletak di kiri kanan gelung bokor mengkurep. Kalungnya bersusun tiga. Baca juga Demikian pembahasan lengkap "Pakaian Adat DI Yogyakarta Lengkap, Gambar dan Penjelasannya" yang dapat kami sampaikan. Artikel ini dikutip dari buku "Selayang Pandang Daerah Istimewa Yogyakarta Kelik Supriyanto". Baca juga artikel kebudayaan Indonesia menarik lainnya di situs
Setiapmotif yang terujud dalam goresan canting pada kain batik yogyakarta adalah sarat akan makna adalah cerita. Motif batik ini berbeda dengan batik batik lainnya. Beragam motif batik yang dimiliki oleh indonesia sudah ditetapkan oleh unseco sebagai warisan asli kebudayaan indonesia pada 2009 silam. Makna tersiratnya adalah sifat keindahan Rumah Adat Yogyakarta – Yogyakarta merupakan wilayah yang kaya akan budaya, dimana budaya yang ada tidak akan pernah lepas dari sisi keindahannya. Salah satunya adalah rumah adat Yogyakarta yang bernama Bangsal Kencono, dimana rumah ini merupakan sebuah bangunan keraton Yogyakarta yang kata akan keunikan dan juga keindahan. Agar kita lebih mengenal rumah adat Yogyakarta Bangsal Kencono, yuk simak penjelasanya dibawah ini! Rumah Adat Bangsal Kencono Gambar Rumah Adat Bangsal Kencono Rumah adat Yogyakarta Bangsal Kencono merupakan rumah adat yang dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono I, tepatnya pada tahun 2757 Masehi dan digunakan sebagai tempat untuk menyelenggarakan berbagai acara keagamaan dan juga kesultanan. Seperti misalnya apabila ada seseorang sultan yang akan naik tahta, maka upacara kesultanan akan dilakukan di rumah Bangsal Kencono ini. Rumah adat Bangsal Kencono adalah rumah adat yang berbentuk joglo dan dijadikan sebagai bangunan khas dari Keraton Yogyakarta. Dimana rumah ini mempunyai ukuran yang begitu besar dengan desain arsitektur yang masih mendapat pengaruh dari berbagai negara, diantaranya adalah Belanda, Portugis, hingga Cina. Tetapi, secara keseluruhan pengaruh budaya Jawa lah yang masih mendominasi bangunan dari rumah adat bangsal kencono ini Ciri Khas Rumah Bangsal Kencono Gambar Ciri Khas Rumah Bangsal Kencono Setiap rumah adat tentunya mempunyai keunikan dan juga ciri khas yang berbeda-beda dengan rumah adat yang lainnya. Hal ini juga berlaku pada rumah adat Yogyakarta bangsal Kencono, dimana ciri khas dari rumah adat ini adalah sebagai berikut. Ukuran Rumah Adat Bangsal Kencono Apabila dilihat dari segi ukuran, maka rumah adat Yogyakarta bangsal Kencono ini tentunya akan berbeda-beda. Ukuran rumah ini akan disesuaikan dengan kebutuhan dari pemiliknya. Misalnya apabila rumah adat ini dibangunin dengan tujuan digunakan sebagai bangunan Yogyakarta, maka rumah akan dibangun dengan ukuran yang khas dan besar, karena harus bisa menampung tamu-tamunya istana yang jumlahnya bisa mencapai ratusan hingga ribuan. Struktur Bangunan Rumah Adat Bangsal Kencono Bentuk atap dari rumah adat Yogyakarta bangsal kencono mirip dengan rumah joglo yang menggunakan atap tajug dan ditopang dengan menggunakan empat buah tiang. Gimana tiang yang ada pada bagian tengah bangunan ini disebut sebagai Soko guru. Rumah adat bangsal kencono dibangun dengan menggunakan bahan material yang tentunya berkualitas, seperti pada bagian atap yang menggunakan genting tanah. Kenapa menggunakan genting tanah dalam membuat rumah adat ini? Ternyata hal tersebut dikarenakan genting tanah mempunyai ketahanan yang baik terhadap panas, sehingga rumah akan terasa lebih sejuk. Empat tiang penopang dari rumah adat Yogyakarta ini dibuat dengan menggunakan bahan material umpak bagi yang berwarna keemasan. Sementara untuk bagian lantai nya akan menggunakan bahan material marmer atau granit. Ornamen Rumah Adat Bangsal Kencono Rumah adat Yogyakarta bangsal kencono juga terdapat berbagai hiasan ornamen-ornamen yang unik dan akan disesuaikan dengan bagian dalam dan juga luar rumah. Apabila interior dihiasi dengan berbagai macam ukiran yang bernuansakan alam, maka area eksteriornya akan diletakkan berbagai macam pot bunga dan juga tanaman-tanaman hijau. Pada bagian halaman rumah terdapat sangkar burung yang akan semakin memperindah pemandangan. Keberadaan sangkar burung ini sebenarnya mempunyai tujuan tersendiri. Dimana filosofi dari sangkar burung yang berada di rumah adat Yogyakarta bangsal kencono mengartikan sebagai perwujudan berapa pentingnya hewan di sebuah rumah. Dalam budaya Jawa, kicauan burung merupakan pertanda akan sesuatu yang dekat dengan nuansa alam, sekaligus juga sebagai pemandu penghuninya agar senantiasa selalu menjaga kelestarian alam Bagian Utama Rumah Bangsal Kencono Gambar Bagian Rumah Bangsal Kencono Rumah adat Yogyakarta bangsal kencono mempunyai bentuk yang cukup besar dan luas, dimana tentunya di dalam rumah ini akan terdapat berbagai susunan yang tidak sedikit. Secara garis besar, rumah adat bangsal kencono terbagi menjadi 3 bagian yang berbeda, yakni bagian depan, bagian inti dan juga bagian belakang. Berikut ini merupakan penjelasan dari setiap bagian-bagiannya. Bagian Depan Rumah Bangsal Kencono Bagian depan rumah adat ini tentunya terletak pada bagian yang paling depan. Dimana bagian depan juga terdiri dari beberapa bagian kecil yang lainnya, yakni sebagai berikut. Gladhag pangurakan Bagian ini merupakan gerbang utama yang digunakan sebagai pintu masuk ke dalam istana. Dimana posisi dari Gladhag pangurakan ini menghadap ke arah alun-alun lor Keraton Yogyakarta. Alun-alun lor Keraton Yogyakarta Bagian ini merupakan sebuah lapangan luas, dimana didalamnya terdapat dua pohon beringin kembar. Alun-alun ini akan digunakan sebagai tempat untuk melakukan berbagai macam kegiatan upacara adat, baik itu upacara Sekaten, Suro dan Grebeg Merapi. Kata “lor” tersebut diartikan sebagai “Utara”. Masjid Gedhe Bagian ini merupakan bangunan berupa masjid gedhe yang digunakan sebagai tempat untuk beribadah umat Islam, terutama pada warga Keraton Yogyakarta. Letak dari ruangan ini berada di sisi barat dari alun-alun lor. Bagian Inti Rumah Bangsal Kencono Bagian inti dari rumah adat Yogyakarta ini terbagi menjadi banyak sub area dengan fungsi yang berbeda-beda. Dimana secara garis besar ruangan inti dari rumah ini mempunyai tujuh bagian, berikut ini bagian-bagiannya. Bangsal pagelaran Bagian bangsal pagelaran ini digunakan sebagai tempat para punggawa keraton Yogyakarta apabila mereka akan menemui raja, terutama pada saat upacara adat akan dilakukan Sitihinggil Bagian ini biasanya akan digunakan oleh para warga keraton Yogyakarta sebagai tempat untuk mengadakan upacara adat. Biasanya sultan akan berada pada tempat ini ketika upacara adat sedang berlangsung. Sitihinggil diambil dari kata “Siti” yang mempunyai arti “tanah” dan “Hinggil” yang mempunyai arti “tinggi”. Dimana penamaan tersebut dikarenakan ruangan ini mempunyai bagian tanah yang memang lebih ditinggikan dibandingkan dengan bagian yang lainnya lokasinya berada di sebelah selatan alun-alun lor. Kamandhungan ler Bagian ini merupakan bagian dari Siti Hinggil yang juga mempunyai berbagai bagian pendukung, seperti bangsal pancaniti, bangsal pecaosan dan juga bale anti wahana. Beberapa ada juga yang menyebut bagian ini sebagai plataran keben. Bangsal Srimanganti Tempat ini akan digunakan sebagai tempat untuk menerima tamu dan juga dijadikan sebagai lokasi pementasan budaya. Dimana bangsal juga dilengkapi dengan pelataran srimanganti. Pada sisi timur bangsal srimanganti terdapat pula bangsal trajumas yang akan dijadikan sebagai tempat untuk menyimpan barang pusaka milik Keraton Yogyakarta. Kedhaton Kedhaton merupakan bagian khusus yang digunakan sebagai tempat tinggal keluarga kerajaan. Dimana bagian ini terdiri dari berbagai bagian lainnya yakni keputran yang digunakan sebagai tempat tinggal dari istri sultan, dan kesatria yang digunakan sebagai tempat tinggal putra raja. Kedhaton juga menjadi pusat kawasan dari rumah adat Yogyakarta bangsal kencono dan menjadi rumah dengan tingkatan paling tinggi apabila dibandingkan dengan bagian yang lainnya. Kemagangan Bagian ini biasanya dijadikan sebagai tempat untuk menerima abdi dalem, tempat belajar, tempat ujian dan juga digunakan sebagai tempat apel bagi para abdi dalem saat magang Siti Hinggil kidul Bagian ini biasanya akan digunakan sebagai tempat gladi resik upacara grebeg, tempat raja menyaksikan adu rampogan, tempat prajurit perempuan untuk berlatih dan juga dijadikan sebagai tempat prosesi awal upacara pemakaman para sultan yang akan dibawa menuju ke Imogiri. Bagian Belakang Rumah Bangsal Kencono Bagian terakhir dari rumah adat Yogyakarta adalah bagian belakang. Dimana pada bagian ini juga dibagi menjadi beberapa bagian yang lainnya. Berikut ini penjelasannya! Alun-alun kidul Alun-alun kidul berada pada bagian selatan keraton Yogyakarta. Dimana alun-alun ini juga sering digunakan sebagai pengkeran. Plengkung nirbaya Bagian ini biasanya akan dijadikan sebagai tempat poros utama untuk menuju ke tempat pemakaman Imogiri Bentuk dan Bahan Material Rumah Adat Bangsal Kencono Rumah adat Yogyakarta bangsal Kencono mempunyai bentuk atap yang menggunakan desain dari rumah joglo. Bahan yang dipakai untuk pembuatan atap ini juga berupa genteng dari tanah atau sirap. Atap dari rumah ada ini akan ditopang dengan menggunakan empat tiang yang disebut dengan Soko guru. Dimana tiang-tiang itu terbuat dari bahan kayu dan diberikan warna tambahan yakni warna hijau atau warna hitam. Sedangkan pada bagian bawahnya, tiang-tiang ini akan ditopang lagi dengan menggunakan umpak batu. Umpak batu inilah yang dinilai sangat ampuh dan juga tahan terhadap goncangan gempa. Pada bagian dinding rumah menggunakan bahan material kayu dengan kualitas yang tinggi, seperti kayu jati dan juga lagi nangka. Pemilihan kayu yang tinggi ini bertujuan agar rumah mampu bertahan lama. Sedangkan untuk bagian dari lantai rumah juga tidak lagi menggunakan bahan material kayu, melainkan menggunakan marmer atau granit. Fungsi Rumah Adat Bangsal Kencono Seperti yang sudah kita tahu, karena rumah adat ini masih berada pada kawasan keraton Yogyakarta, maka fungsi dari rumah adat ini tidak akan jauh berbeda dari kepentingan keraton. Dimana rumah ini bisa dijadikan sebagai tempat tinggal bagi para anggota keraton Yogyakarta, termasuk juga raja dan abdi keraton. Fungsi yang lainnya adalah rumah ada ini juga bisa digunakan sebagai tempat untuk pertemuan antara raja dengan tamu pentingnya. Bukan hanya itu, rumah adat ini juga bisa digunakan sebagai tempat untuk melakukan berbagai macam upacara adat dan juga upacara keagamaan. Dari beberapa fungsi di atas maka dapat diketahui bahwa rumah adat Yogyakarta mempunyai beragam fungsi, sehingga rumah adat ini termasuk ke dalam rumah adat yang serbaguna. Orang juga bertanya Apa saja rumah adat? Apa senjata tradisional Yogyakarta? Apa ciri khas rumah Yogyakarta? Penutup Demikianlah pembahasan mengenai rumah adat Yogyakarta Bangsal Kencono. Dimana pembahasan ini dimulai dari pembahasan sejarah, ciri khas, bagian utama, bentuk dan bahan material serta fungsi dari rumah adat Yogyakarta. Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan tentunya bisa menambah wawasan para pembaca dalam mengenal rumah adat Bangsal Kencono yang berasal dari Yogyakarta. Semoga tulisan ini juga dapat dipahami dengan baik. Rumah Adat YogyakartaSumber Refrensi

Nah berikut ini adalah daftar alat musik tradisional Jawa Tengah beserta gambar dan keterangan singkatnya untuk pembelajaran bagi kita semua. 1. Kendang. Kendang adalah alat musik tradisional Jawa Tengah yang terbuat dari kulit hewan (lembu, kambing, dan sapi) dan kayu (nangka, cempedak, dan kelapa). Dimainkan dengan cara ditepak dengan

Jogja sebagai Kota Budaya menawarkan keanekaragaman budaya yang beranek ragam. Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa wisatawan asing banyak yang betah berlama-lama tinggal di Jogja, bahkan beberapa di antara mereka menetap di sana. Dari budaya asli Jogja yang ada, ada 7 budaya Jogjakarta yang paling terkenal baik di dalam maupun luar negeri. Kebudayaan ini menjadi ciri khas Jogja, unik dan antik sehingga siapapun yang melihat salah satu produk budaya ini, akan selalu teringat Jogja. Nah, bagi Anda yang ingin mengenal lebih jauh tentang Jogja, ada baiknya mengetahui ragam budaya setempat. Khususnya, bagi Anda yang ingin liburan kesana, budaya ini bisa menjadi salah satu agenda liburan Anda baik itu sendiri, ataupun bersama Batik Jogja Tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional. Ini membuktikan bahwa batik benar-benar menjadi ciri khas Indonesia, khususnya di Jogja. Batik sudah menjadi kebudayaan yang diturunkan dari nenek moyang. Batik menjadi karya seni yang tidak sekedar goresan canting yang tampak cantik di mata, tapi juga kaya akan makna. Batik yang cukup lama dan bisa menjadi wisata budaya Jogja adalah batik Giriloyo. Karena kepopuleran batik ini, kampung di Jogja ini bahkan kedatangan tamu asing dari berbagai belahan dunia, seperti Asia, Amerika, Afrika dan Eropa. Sudah terbukti bahwa batik ini sudah go internasional. Untuk kepentingan wisata, Anda bisa berkesempatan turut belajar batik di sana. Ada paket short course batik, khusus bagi wisatawan yang ingin belajar batik bersama-sama. Batik ini batik tulis sehingga Anda akan belajar bargaimana menggoreskan canting pada kain mori. Beberapa batik lain yang tidak kalah terkenal meliputi bati motif ceplok, kawung, parang kusumo, dan batik motif Sekatenan Sekatenan bisa dikatakan salah satu dari adat budaya Jogja yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Mungkin sejaka Islam masuk ke tanah Jawa karena Sekatenan adalah acara tahunan pesta rakyat yang dilakukan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad tanggal 5 Rabiul Awal Kalender Islam. Wisata adat paling terkenal dari Sekatenan adalah pasar malamnya. Anda bisa bertandang ke Alun-Alun Utara Keraton Jogjakarta. Pasar malam ini berlangsung selama sebulan sebelum tanggal 5 Rabiul Awal. Puncak dari Sekatenan adalah Grebeg Maulud. Pada Grebeg Maulud, akan ada arak-arak yang membawa beraneka ragam hasil bumi yang dipanggul. Puncaknya adalah berebut hasil bumi ini. Barang siapa yang bisa mendapatkan buah, atau hasil bumi lain, dipercaya bisa mendatangkan rejeki. Acara budaya Jogja ini sangat unik sehingga tidak sedikit wisatawan asing yang datang untuk melihatnya secara Sendratari Ramayana Setiap wisatawan asing yang datang ke Jogja, hampir pasti meluangkan waktunya untuk melihat Sendratari Ramayana, sebuah seni tari dan drama yang digabungkan menjadi satu pertuntjukan yang apik tanpa dialog dengan certia Ramayana. Secara singkat, ceritanya mengenai Sri Rama yang berusaha keras untuk menyelematkan istri kesayangannya, Dewi Shinta yang telah diculik oleh Rahwana. Begitu terkenalnya budaya asli Jogja ini, Sendratari Ramayana juga dimainkan di beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Laos, Kamboja, Singapura, Thailand hingga India dan Sri Lanka. Jika Anda ingin menonton pertunjukan ini, Anda bisa datang ke Teater Tri Murti Prambanan setiap hari Selasa, Rabu dan Kamis. Di gedung ini, Anda melakukan reservasi untuk pertunjukan pada tanggal-tanggal yang sudah ditentukan sepanjang tahun. Namun, pada bulan-bulan tertentu, Anda juga bisa melihatnya di gedung terbuak dengan background Candi Prambanan. Namun, di Pura Wisata dan Ndalem Pujokusuman, pertunjukan ini juga Seni Tari Kesenian adalah bagian dari budaya, dan Jogja adalah kota seni tinggi yang sudah terkenal di dunia. Seni tari merupakan produk budaya daerah Jogja yang saat ini tidak hanya diminati oleh wisatawan dalam negeri, tapi juga luar negeri. Seni tari dari Jogja ada beberapa macam, dari tari yang menampilkan kemolekan dan keanggunan seorang wanita, atau wanita yang pemberani hingga seorang ksatria berparas tampan dan gagah. Tari Golek Ayun-Ayun adalah contohnya. Tari ciptaan KRT Sasmita Dipura ini ditampilkan untuk menyambut tamu oleh dua orang penari berpakaian baju beluduru hitam dipadukan dengan bawahan kain batik putih. Lalu ada juga tari Beksan Srikandi Suradewati, sebuah tarian mengenai peperangan Dewi Suradewati dengan Dewi Karawitan Banyak budaya-budaya Jogja yang diadopsi kemudian digunakan untuk menampilkan karya seni kontemporer, seperti campur sari. Kalau kita melihat asalnya, campur sari ini dulunya berasal dari seni karawitan dari Jogja, sebuah kesenian tarik suara yang menggunakan gamelan sebagai instrumennya dan suara manusia yang berlaraskan pelog atau slendro. Banyak pesinden, wanita yang menyanyi pada seni karawitan yang sekarang ini bisa Anda temukan seperti pesinden legendaris Waljinah, Condrolukito, dan lain-lain. Bahkan, kesenian ini sekarang tidak hanya dipelajari oleh orang Indonesia, tapi juga dari luar negeri seperti Jepang, Amerika dan Eropa. Berbeda dengan seni musik kontemporer, seni budaya karawitan di Jogja ini ada pakem-nya. Dan karawitan dari Jogja pada khususnya memiliki sifat sawiji, sengguh, keras, bulat, patriotik, semangat dan selalu berapi-api. Ciri khas ini disebabkan oleh faktor sejarah khususnya perlawanan dengan pemerintah kolonial Wayang Kulit Siapa yang tidak mengenal wayang kulit? Salah satu produk budaya Jawa di Jogja yang menampilkan pertunjukan wayang dengan cerita pewayangan seperti Ramayanan dan Mahabarata. Kebudayaan ini semakin langka saja dipertujunjukkan di berbagai daerah di DIY, namun kelestariannya tetap terjaga hingga sekarang. Wayang kulit sudah mendunia, dan bahkan sudah dimainkan di beberapa negara. Kisah-kisah yang dibawakan pada pertunjukan wayang kulit mungkin sudah biasa dan diulang-ulang khususnya untuk cerita-cerita pakem seperti Dewa Ruci, Gatotokaca Gugur, atau tentang Petruk Dadi Ratu Petruk Jadi Ratu, namun dalang-dalang orang yang menggerakkan wayang membuat cerita-cerita baru namun tidak meninggalkan pakem dan karakter wayang dan tetap kaya Upacara Labuhan Budaya dari Jogja terakhir sampai saat ini masih lestari dan terkenal adalah upacara labuhan. Labuhan merupakan adat istiadat yang telah dilakukan sejaka zaman Mataram Islam abad ke-14. Masyarakat Jogja meyakini bahwa dengan mengadakan upacara ini, maka akan tercipta ketentraman dan kesejahteraan dan selalu diberikan keselamatan oleh yang Maha Kuasa. Meski diselenggarakan oleh Keraton, upacara ini tetap dimeriahkan oleh masyarakat secara luas dengan tujuan bahwa upacara ini tetap lestari. Adapun inti dari acara ini adalah melakukan persembahan atau syukuran di tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah leluhur raja-raja terdahulu. Doa-doa secara agama Islam dipanjatkan agar memberikan keselamatan, kesejahteraan dan ketentraman bagi masyarakat Jogja dan Indonesia. Begitu kaya kebudayaan Jogja ini sehingga banyak wisatawan yang sering datang untuk mengabadikan momen-momen tersebut. Jika Anda ingin liburan ke Jogja sembari menikmati keunikan dan kekayaan kebudayaan Jogja, Anda bisa turut serta dalam 7 budaya Jogjakarta yang paling terkenal di atas. Selain budaya budaya jogjakarta tsb anda juga bisa menikmati makanan khas jogjakarta yakni gudeg jogjakarta.
  1. Ф иትа
  2. Жιςоψ отопециկθл
  3. Դике зεմурግ
  4. ኀх ошο ծаςիнев
1 Upacara Sekaten 2. Siraman Pusaka 3. Saparan Bekakak 4. Upacara Labuhan parangkusumo 5. Upacara Nguras Enceh 6. Upacara Rebo Pungkasan 7. Upacara Adat Pembukaan Cupu Panjala 8. Upacara Kupatan Jolosutro 9. Upacara Bathok Alas Ketonggo 10. Upacara Jodhangan Goa Cerme Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu provinsi yang ada di Pulau Jawa.
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai kota pendidikan sekaligus dikenal sebagai kota budaya memiliki beragam kebudayaan tradisional salah satunya adalah upacara adat yang hingga saat ini masih sering dijumpai di beberapa daerah di Yogyakarta. Beberapa jenis upacara adat yang terdapat di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, antara lain sebagai berikut. Upacara Adat Sekaten Setelah Raden Patah dilantlik menjadi sultan pertama Kerajaan Demak, atas anjuran Wali Sanga didirikanlah Masjid Besar Demak yang selesai dibangun pada tahun 1408. Saat itu, penyebaran agama Islam tidak banyak mengalami kemajuan. Kemudian muncul gagasan dari Sunan Kalijaga untuk menyelenggarakan keramaian menjelang hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Pada bulan Rabiulawal dibunyikanlah gamelan di halaman masjid agar rakyat mau masuk ke kompleks Masjid Besar. Sejak seminggu sebelum peringatan Maulid, diselenggarakan keramaian. Secara terus-menerus gamelan ditabuh disertai dengan dakwah agama. Beberapa lagu gamelan digubah oleh Sunan Giri dan Sunan Kalijaga. Mendengar bunyi gamelan yang merdu, rakyat berbondong-bondong menyaksikan dari dekat. kemudian menuju pelataran masjid. Para wali memanfaatkan keramaian tersebut sebagai ajang berdakwah tentang keluhuran agama Islam. Banyak yang tertarik dan kemudian masuk Islam. Mereka yang masuk Islam diwajibkan mengucapkan dua kalimat syahadat, istilah Arabnya adalah syahadatain. Lidah orang Jawa mengucapkannya sebagai sekaten. Orang yang telah mengucapkan syahadat berarti sudah resmi masuk Islam dan untuk menyempurnakan keislamannya lalu disunat. Pada malan 12 Rabiulawal, Sultan keluar dari keraton menuju Masjid untuk mendengarkan riwayat hidup Nabi. Pada tengah malam, Sultan kembali ke keraton beserta gamelan sekaten pertanda berakhirnya perayaan sekaten. Pada pemerintahan Sultan Agung, tradisi garebeg mulud disertai pisowanan garebeg di Sitihinggil. Acara tersebut diakhiri dengan wilujengan nagari berupa sesajian gunungan untuk kenduri di Masjid Agung. Sedekah dari raja untuk rakyat berupa gunungan inilah yang kemudian menjadi rebutan masyarakat karena dipercaya dapat digunakan sebagai tolak bala agar hasil pertanian tidak diserang hama penyakit. Selain garebeg mulud diadakan pula garebeg syawal untuk merayakan Idul Fitri dan garebeg besar untuk merayakan Idul Adha. Tradisi perayaan sekaten ini ditetapkan menjadi tradisi resmi sejak kerajaan pindah dari Demak ke Pajang, dari Pajang pindah ke Mataram, lalu ke Surakarta dan Yogyakarta. Pada masa pemerintahan Sri Sultan HB I, ditabuhlah dua gamelan sekaten, yaitu Kyai Gunturmadu yang bermakna anugerah yang turun ditempatkan di bangsal Pagongan Selatan dan Kyai Nogowilogo yang bermakna lestari dan menang perang ditempatkan di bangsal Pagongan Utara. Upacara Adat Labuhan Dalam kepercayaan Jawa, setiap tempat mempunyai penguasa gaib berupa makhluk halus penunggu. Gunung Merapi yang terletak di utara Kota Yogyakarta diyakini ditunggu oleh makluk halus bernama Eyang Sapujagad. Samudra Indonesia yang biasa disebut Laut Selatan terletak di selatan Kota Yogyakarta ditunggu oleh wanita cantik jelita bernama Kanjeng Ratu Kidul. Panembahan Senopati sebagai raja Mataram berupaya menjaga keharmonisan, keselarasan, dan keseimbangan dalam masyarakat. Oleh karena itu, ia menjalin komunikasi dengan kedua makhluk halus tersebut. Salah satu bentuk komunikasinya adalah dengan bersemadi di tempat-tempat tersebut. Ketika Panembahan Senopati merasa sudah saatnya mengambil alih kekuasaan Kerajaan Pajang, ia bertapa di Laut Selatan. Sementara itu, pamannya, yaitu Ki Juru Mertani, bertapa di Gunung Merapi. Untuk menghormati ikatan antara Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram penerus Panembahan Senopati, maka setiap tahun diadakan labuhan di Pantai Parangtritis. Jika kewajiban itu diabaikan, terdapat kepercayaan bahwa Kanjeng Ratu Kidul akan murka dengan mengirim tentara jin untuk menyebarkan penyakit dan berbagai musibah yang akan menimbulkan malapetaka bagi rakyat dan kerajaan. Namun, jika labuhan tetap dilaksanakan, maka Kanjeng Ratu Kidul akan memberikan perlindungan dan bantuan ke Mataram. Labuhan ini sudah menjadi upacara adat Keraton Mataram sejak abad ke XVII. SeteIah Perjanjian Gianti tahun I755 yang membagi Mataram menjadi dua kerajaan, yaitu Kasunanan Surakarta dan KesuItanan Yogyakarta, maka tradisi labuhan dilakukan oleh dua kerajaan Jawa tersebut. Labuhan pertama kali di Kesultanan Yogyakarta diadakan sehari setelah penobatan Pangeran Mangkubumi sebagai Sultan Hamengkubuwono I tahun I755. Tradisi ini berlangsung sampai Sultan Hamengkubuwono ke VIII. Pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono ke IX, labuhan diadakan setelah ulang tahun Sultan. Kini, di masa Sultan Hamengkubuwono ke X, labuhan dilaksanakan seperti dulu lagi, yaitu sehari sesudah penobatannya menjadi raja. Labuhan diadakan setiap tahun pada tanggal 30 bulan Rejeb karena Sultan Hamengkubuwono X dinobatkan pada hari Selasa Wage tanggal 29 Rejeb tahun Wawu 1921 atau 7 Maret 1989. Berikut ini prosesi labuhan Sultan Hamengkubuwono X. Setibanya barang-barang labuhan atau sesaji di Parangkusumo, rombongan abdi dalem memasuki kompleks berpagar yang di dalamnya terletak Sela Gilang. Di atas batu inilah dulu Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul mengadakan pertemuan. Tempat itu diyakini sebagai pintu gerbang menuju kerajaan Kanjeng Ratu Kidul. Juru kunci yang memimpin pelaksanaan upacara membakar kemenyan, kemudian menanam kuku, rambut, dan pakaian bekas Sultan Hamengkubuwono X di pojok kompleks. Juru kunci membakar kemenyan lagi dan mengasapi ketiga ancak yang berisi barang labuhan lalu berangkat ke pantai untuk melabuhnya. Sekitar 10 langkah dari garis pantai, juru kunci duduk bersila menghadap ke laut melakukan sembah ke Kanjeng Ratu kidul sambil mengucapkan doa permohonan, ”Hamba mohon permisi, Gusti Kanjeng Ratu Kidul. Hamba memberikan labuhan cucu Paduka lngkang Sinuwun Kanjeng Sultan yang ke X di Ngayogyakarta Hadiningrat. Cucu paduka mohon pangestu, mohon keselamatan, mohon panjang usia, kemuliaan kerajaan, keselamatan negara di Ngayogyakarta Hadiningrat.” Ketiga ancak segera dibawa ke tengah laut untuk dilabuh. Ancak paling depan untuk dipersembahkan kepada Kanjeng Ratu Kidul, raja dari semua makhluk halus di Laut Selatan. Ancak kedua dipersembahkan kepada Nyai Roro Kidul yang menjabat sebagai patih Kanjeng Ratu Kidul, dan ancak ketiga dipersembahkan kepada mBok Roro Kidul, pembantu kedua. Masyarakat yang menghadiri acara labuhan biasanya beramai-ramai memperebutkan sebagian dari benda labuhan yang dihanyutkan ombak ke pantai. Menurut kepercayaan, barang-barang yang masih baru akan hanyut ke dalam laut karena dipakai oleh Kanjeng Ratu Kidul, sedangkan barang-barang bekas seperti baju bekas Sultan dan bunga bekas sesaji akan kembali ke pantai. Menurut kepercayaan, barang-barang yang kembali terdampar di pantai tersebut mempunyai kekuatan gaib karena dikirim kembali oleh Kanjeng Ratu Kidul untuk mengatasi segala gangguan dan penyakit. Beberapa orang menjadikannya sebagai jimat. Jimat adalah suatu benda yang difungsikan sebagai pusaka dan dipercaya mempunyai kekuatan magis untuk membantu pemiliknya menangkal gangguan alam. Yang mendapatkan benda-benda labuhan berharap akan beroleh kesejahteraan dan keberuntungan hidup. Upacara Adat Bekakak Bekakak disebut juga saparan bekakak. Bekakak berarti korban penyembelihan manusia atau hewan. Hanya saja, bekakak yang disembelih dalam upacara ini hanya tepung ketan yang dibentuk seperti pengantin laki-laki dan perempuan sedang duduk. Sebelum diarak untuk disembelih, pada malam sebelumnya diadakan upacara midodareni layaknya pengantin sejati. Menurut kepercayaan masyarakat, pada malam menjelang perkawinan, para bidadari turun ke bumi untuk memberi restu. Orang-orang begadang semalam suntuk demi menyambut kedatangan para bidadari tersebut. Pada siang hari, "pengantin" diarak dari Balai Desa Ambarketawang, Sleman, Yogyakarta ke Gunung Gamping. Ini adalah tempat Kyai Wirasuta, abdi dalem Sri Sultan HB I muksa, hilang tanpa bekas. Kyai Wirasuta adalah abdi dalem penongsong, abdi dalem pembawa payung ketika Sri Sultan HB I bepergian. Ketika Sultan pindah dari Ambarketawang ke keraton yang baru, abdi dalem ini tidak ikut pindah dan tetap tinggal di Gamping. Ia menjadi cikal-bakal penduduk di sana. Ia tinggal di dalam gua di bawah Gunung Gamping tersebut. Suatu hari, Jumat Kliwon sekitar tanggal 10-15 bulan Sapar, menjelang purnama terjadi musibah yang menimpa Kyai Wirasuta sekeluarga. Gunung Gamping yang didiami runtuh. Kyai Wirasuta sekeluarga beserta hewan kesayangannya berupa landak, gemak, dan merpati terkubur di reruntuhan. Sri Sultan HB I segera memerintahkan untuk mencari jenazah mereka, tetapi tidak ditemukan. Maka Sultan memerintahkan para abdi dalem keraton supaya setahun sekali setiap bulan Sapar antara tanggal 10-20 untuk membuat selamatan dan ziarah ke Gunung Gamping dengan tujuan untuk mengenang jasa dan kesetiaan Ki Wirasuta sebagai abdi dalem yang loyal sampai akhir hayat. Penyembelihan bekakak dimaksudkan sebagai bentuk pengorbanan untuk para arwah atau danyang penunggu Gunung adalah agar mereka tidak mengambil korban manusia, sekaligus berkenan memberikan keselamatan kepada masyarakat yang menambang batu gambing di sana. Upacara Adat Rebo Wekasan Rebo wekasan merupakan suatu upacara tradisional yang terdapat di Desa Wonokromo, Pleret, Bantul. Letaknya sekitar 10 km dari Kota Yogyakarta. Rebo wekasan berasal dari kata rebo dan wekasan yang berarti hari Rabu terakhir bulan Sapar. Pada tahun 1600, Keraton Mataram yang berkedudukan di Pleret sedang dilanda penyakit atau pageblug. Sultan Agung sebagai raja Mataram sangat prihatin. Ia pergi bersemadi di Masjid Soko Tunggal di Desa Kerton. Dalam semadinya ia mendapat petunjuk dari Tuhan untuk membuat penolak bala guna mengusir wabah tersebut. Dipanggillah Kyai Sidik dari Wonokromo untuk membuat penolak bala. Jimat adalah penolak bala itu. Jimat tersebut berupa aksara Arab bertuliskan Bismillahir Rahmanir Rahim sebanyak 124 baris dan dibungkus dengan kain mori putih. Oleh Sultan Agung, jimat tersebut direndam dalam bokor kencana dan diminumkan kepada orang yang sakit. Ternyata mereka sembuh. Semakin banyaklah orang yang datang meminta air tersebut. Lantaran tidak mencukupi untuk semua orang, maka Sultan Agung memerintah Kyai Sidik untuk membuang jimat tersebut ditempuran Sungai Opak dan Sungai Gajahwong. Berduyun-duyunlah orang berkunjung ke tempuran tersebut untuk membasuh muka, mandi, dan berendam agar mendapat keberuntungan. Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I, Kyai Muhammad Fakih dititahkan untuk membuat masjid pathok negoro di Desa Wonokromo dengan nama Masjid at-Taqwa. Awalnya masjid tersebut terbuat dari anyaman bambu dengan atap dari anyaman daun alang-alang yang disebut welit. Karena keahliannya membuat welit maka masyarakat sekitar memanggilnya Kyai Welit. Dia juga meneruskan tradisi rebo wekasan pada Rabu terakhir bulan Sapar tahun 1754 atau 1837 M. Dia membuat kue lemper yang dibagikan ke masyarakat di sekitarnya. Menurutnya, kue lemper mengandung nilai filosofis. Kulit lemper dari daun pisang mengibaratkan segala hal yang dapat mengotori akidah, sehingga harus dibuang. Ketan ibarat kenikmatan duniawi. Isi lemper yang berupa daging cincangan ibarat kenikmatan akhirat. Jadi makan lemper bermakna bahwa orang yang ingin mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat harus bisa menghilangkan kotoran jiwa sehingga jadi bersih seperti lemper yang sudah dikupas. Peristiwa tersebut dianggap sebagai hari bersejarah bagi masyarakat Wonokromo sehingga diperingati setiap tahun. Upacara rebo wekasan dianggap sebagai pengingat bahwa telah terjadi musibah yang menelan banyak korban jiwa. Tradisi mengarak lemper diteruskan sampai sekarang dalam bentuk lemper raksasa sepanjang dua setengah meter dengan diameter setengah meter. Upacara Adat Siraman Kanjeng Kyai Jimat Upacara ini dimaksudkan sebagai bentuk pemuliaan terhadap benda-benda pusaka kerajaan yang mengandung nilai sejarah atau mempunyai nilai spiritual karena bertuah dan menyajikan persembahan makanan caos dahar berupa sesajen buat kereta pusaka Kanjeng Kyai Jimat diharapkan roh penunggu kereta memberikan keselamatan bagi keluarga keraton dan para kawula kerajaan. Acara ini diselenggarakan di museum kereta Pagedongan Rotowijayan, Keraton Yogyakarta. Biasanya, acara digelar pada hari Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon bulan Sura. Setelah diberi sesaji, kain penutup kereta dibuka untuk didorong dari tempatnya ke luar depan pintu Pagedogan. Bagian pertama yang dibersihkan adalah bagian depan kereta berupa patung putri duyung. Dilanjutkan bagian atap, terus ke belakang. Terakhir adalah bagian roda kereta. Asap dupa terus mengepul tiada henti menciptakan suasana magis. Seusai siraman, kereta Pusaka dikeringkan dengan kain lap. Perasan kain lap ditampung di dalam ember. Saat itulah, air perasan tadi menjadi rebutan masyarakat karena dipercaya mengandung kekuatan gaib untuk menyembuhkan segala macam penyakit. Upacara Adat Nguras Enceh Enceh atau kong adalah gentong wadah air yang terbuat dari tanah liat. Ada empat buah enceh di halaman Supit Urang Istana Saptarengga, makam Sultan Agung. Dua buah enceh yang ada di sebelah timur menjadi wewenang Kasunanan Surakarta dan dua buah yang ada di sebelah barat menjadi wewenang Kesultanan Yogyakarta. Nama-nama enceh mulai dari timur ke barat adalah Nyai Siyem berasal dari negeri Siam atau Muangthai, Kyai Mendung berasal dari negeri Ngerum, Kyai Danumaya berasai dari Palembang, dan Nyai Danumurti berasal dari Aceh. Menurut abdi dalem Puralaya yang menjaga makam, enceh ini digunakan sebagai tempat wudu Sultan Agung ketika hendak menunaikan salat. Pada bulan Sura, hari Jumat Kliwon, banyak masyarakat yang mengikuti upacara pembersihan enceh. Mereka berebut mendapatkan air bekas cucian enceh. Ada juga yang caos dhahar dengan membawa kembang setaman dan membakar kemenyan. Mereka minta agar dikabulkan segala cita-citanya. Ada juga orang-orang tua yang membasuh mukanya dengan air enceh yang dipercaya dapat membuat awet muda dan menyembuhkan berbagai penyakit. .